Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Sudah Kritis, Joserizal Masih Pikirkan Korban Banjir

Senin 20 Jan 2020 21:51 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Indira Rezkisari

Keluarga dan kerabat menghadiri prosesi pemakaman pendiri lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) Joserizal Jurnalis di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Senin  (20/1)).

Keluarga dan kerabat menghadiri prosesi pemakaman pendiri lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) Joserizal Jurnalis di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Senin (20/1)).

Foto: Thoudy Badai_Republika
Dengan isyarat tangan, Joserizal ingin tandatangani cek untuk bantuan korban banjir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendiri dan Dewan Pembina Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr Joserizal Jurnalis meninggal dunia, Senin (20/1) dini hari. Pejuang kemanusiaan itu tutup usia setelah menjalani perawatan intensif lantaran masalah jantung.

Dirawat sejak 27 Desember 2019 di ruang ICU Rumah Sakit Harapan Kita, Joserizal sempat sadarkan diri pada awal Januari 2020. Kala itu ia masih belum bisa berbicara. Namun dengan menggunakan isyarat tangan, ia menyampaikan keinginan untuk membantu korban banjir Jabodetabek dan Lebak.

"Beliau minta dikeluarkan cek, karena beliau tahu Jakarta lagi banjir. Artinya dalam keadaan lemah sekalipun masih memikirkan untuk umat," kata Presidium MER-C Farid Talib usai prosesi pemakaman Joserizal di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur.

Saat sadarkan diri itu, Joserizal juga sempat melihat buah gagasan dan kerja kerasnya bagi rakyat Palestina. Yakni foto tuntasnya pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina. RSI digagas Jose --sapaan akrabnya-- untuk membantu korban konflik Palestina-Israel di Jalur Gaza.

"Saya tunjukkan foto dari ponsel, RSI di Gaza sudah selesai 4 lantai. Sudah full. Dan dapat juga lahan baru untuk pengembangan. Dia acungkan jempol," ujar Farid.

Meski demikian, Farid mengaku sangat sedih ketika ia tak bisa menyampaikan bahwa MER-C sudah mengantongi izin untuk masuk ke Jalur Gaza. Sebuah izin yang katanya butuh waktu pengurusan hingga berbulan-bulan.

"Semalam (19 Januari) izin keluar. Saya mau laporan ke dia. Ketika saya sampai di rumah sakit ternyata dia kritis. Sekitar dua atau tiga menit saya di sana, beliau wafat," tutur Farid.

Masalah Jantung
Anak Joserizal, Saladin Sean Jurnalis (22 tahun), mengatakan, ayahnya dirawat intensif lantaran masalah jantung. Namun memburuknya kesehatan Jose ternyata sudah dimulai sejak 10 tahun lalu.

"Sejak gempa Padang 2009, ayah sudah kena asam urat, ternyata itu hipertensi. Terus saat 2010 sepulang naik haji sempat drop dan dirawat di RS Harapan Kita untuk kuras cairan. Sampai 2016 masih perawatan terus," kata Saladin usai menguburkan jenazah ayahnya.

Selepas 2016, lanjut Saladin, kondisi sang ayah mulai kritis. Bahkan, ayahnya sempat dirujuk ke rumah sakit di Singapura.

"Di sana beliau dipasang alat CRT untuk mengatur irama jantung," ucapnya sembari menahan air mata dan tangan bergetar.

Lalu, barulah Jose dirawat pada akhir Desember 2019. Meski sempat sadarkan diri di awal tahun 2020, kondisi Jose kembali kritis lantaran masalah jantungnya diperparah oleh adanya infeksi.

"Infeksi sempat ke mana-mana, ada di saluran peredaran darah dan paru-paru. Tugas jantung jadi lebih berat," ujar Saladin.

Farid mengatakan, kondisi Jose mulai melemah itu memang sejak sekitar empat tahun lalu atau seusai pemasangan alat CRT jantung. Meski demikian, Jose tetap saja enggan menghentikan aktivitasnya bersama MER-C.

"Dia ini bukan seorang pasien yang patuh. Mungkin karena dia juga dokter, jadi tahu batasan dirinya sendiri," kata Farid.

Selama empat tahun terakhir itu lah, ujar Farid, Jose terus memaksakan dirinya bekerja untuk kemanusiaan. Meski aktivitas geraknya berkurang, tapi ketajaman berpikir dan semangat Jose terus menyertai sepak terjang MER-C. "Hingga akhir hayatnya, Joserizal tetap aktif memperjuangkan kemanusian," tutup Farid.

Joserizal Jurnalis tutup usia pada umur 56 tahun. Pria kelahiran Padang, Sumatra Barat, itu meninggalkan istri, dua orang putri dan satu orang putra.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA