Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Pakar Psikologi Ungkap Sebab Bermunculannya Kerajaan Fiktif

Selasa 21 Jan 2020 19:53 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Keraton Agung Sejagat. Pakar psikologi mengatakan,  fenomena kerajaan fiktif tak selalu berkaitan dengan persoalan ekonomi.

Keraton Agung Sejagat. Pakar psikologi mengatakan, fenomena kerajaan fiktif tak selalu berkaitan dengan persoalan ekonomi.

Foto: Tangkapan Layar Youtube.
Berdasarkan ilmu psikologi, kerajaan fiktif tak selalu muncul karena faktor ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Koentjoro memandang, fenomena kerajaan fiktif tak selalu berkaitan dengan persoalan ekonomi. Ia mengatakan, kerajaan fiktif masih berpeluang muncul di kemudian hari.

"Akan selalu terjadi. Sejak zaman dahulu ada dan ke depan akan tetap ada," kata Koentjoro di Kampus UGM, Yogyakarta, Selasa.

Menurut Koentjoro, berdasarkan ilmu psikologi, fenomena kerajaan fiktif seperti munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah serta Sunda Empire di Bandung, Jawa Barat, biasanya dimunculkan oleh orang yang mengalami delusi keagungan (grandiose delusion).

Keberhasilan para penggagas kerajaan fiktif untuk menggaet pengikut, menurut Koentjoro, karena didukung dengan penguasaan psikologi massa sehingga mampu mempengaruhi atau meyakinkan orang lain. Cerita-cerita yang disampaikan di tengah kumpulan massa mampu mereka kemas secara menarik sehingga membuat hal-hal yang tidak ada seolah nyata.

Baca Juga

Kemampuan itu berpeluang menghipnotis orang lain memutuskan menjadi pengikutnya. "Itulah suatu kekuatan psikologi massa sehingga orang dengan mudah percaya dengan apa yang dikemukakan," kata dia.

Sementara itu, dari sisi para pengikutnya, Koentjoro memandang keputusan mereka tak selalu dilandasi motif ekonomi. Buktinya, menurut Koentjoro, merujuk fenomena Kerajaan Agung Sejagat, para pengikutnya rela mengeluarkan sejumlah uang sekadar untuk membeli seragam sebagai syarat keanggotaan.

"Kalau kemiskinan, kenapa mereka mau membayar dua juta rupiah? Artinya, mereka cukup. Kondisi miskin, tapi berspekulasi. Ada keinginan yang mau dicapai," kata dia.

Keputusan menjadi pengikut, menurut Koentjoro, bisa dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya berkaitan dengan post power syndrome.

"Banyak di antara mereka orang-orang tua yang dulu punya jabatan tertentu yang tidak terlalu tinggi yang kemudian ketika pensiun di rumah tidak ada siapa-siapa yang bisa diperintah lalu dia menggabungkan yang ada di situ," kata dia.

Kemungkinan lainnya, menurut Koentjoro, adalah kurangnya sentuhan kasih sayang atau penghargaan yang didapatkan para orang tua dari anak-anaknya. Alhasil, sebagai sarana aktualisasi diri, mereka memilih bergabung dengan komunitas itu.

Untuk mencegah fenomena kerajaan atau keraton palsu muncul kembali, Koentjoro berharap pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk meningkatkan daya kritis masyarakat melalui pendidikan.

"Kita ingatkan iqra (membacalah) agar kita mau berfikir, tidak mudah kena pengaruh," kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA