Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Aksi Mata-Mata Rusia di Swiss

Rabu 22 Jan 2020 13:58 WIB

Red: Indira Rezkisari

Kepolisian Swiss menggagalkan aksi dua orang yang diduga mata-mata Rusia yang akan menyelinap di Forum Ekonomi Dunia, di Davos, Swiss. Swiss sebelumnya melaporkan aksi mata-mata Rusia di negaranya telah meningkat jumlahnya.

Kepolisian Swiss menggagalkan aksi dua orang yang diduga mata-mata Rusia yang akan menyelinap di Forum Ekonomi Dunia, di Davos, Swiss. Swiss sebelumnya melaporkan aksi mata-mata Rusia di negaranya telah meningkat jumlahnya.

Foto: EPA
Swiss mencatat ada peningkatan aksi mata-mata Rusia di sana.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Muhammad Nursyamsi, Rizky Jaramaya

Pejabat Swiss menggagalkan operasi mata-mata yang diduga dilakukan oleh Rusia dengan menyamar menjadi tukang ledeng di tempat pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, seperti dilaporkan surat kabar Tages-Anzeiger, dikutip Rabu (22/1).

Laporan tersebut menyampaikan polisi Swiss memeriksa dua orang warga negara Rusia yang diduga menjadi mata-mata pada Agustus lalu di resor ski yang menjadi lokasi pertemuan Forum Ekonomi Dunia pekan ini. Surat kabar itu melaporkan kedua terduga menunjukkan paspor diplomatik dan kemudian meninggalkan Swiss.

Polisi di Grisons Swiss timur mengatakan kedua pria dengan paspor diplomatik Rusia telah menjadi subyek pemeriksaan identitas rutin di Davos pada Agustus 2019, tetapi tidak ada hubungan yang dibuat antara kunjungan mereka dengan Forum Ekonomi Dunia.

"Memang benar bahwa kami memeriksa dua warga Rusia di Davos dan mereka mengidentifikasi diri mereka dengan paspor diplomatik, tetapi kami tidak dapat memastikan alasan untuk menahan mereka. Mereka diizinkan pergi," ujar juru bicara kepolisian wilayah tersebut dilansir dari Reuters.

Kepolisian setempat juga mengaku tidak pernah mengidentifikasi kedua pria tersebut sebagai tukang ledeng.

Seorang juru bicara kedutaan Rusia di Bern, Swiss, menolak laporan tersebut dan mengatakan kedua warga Rusia yang terakreditasi di luar Swiss telah diperiksa dan diizinkan melanjutkan perjalanan. "Paspor diplomatik diberikan kepada pejabat tinggi, bukan pekerja kasar. Saya pikir ini lelucon konyol," ucap juru bicara kedutaan Rusia di Bern, Swiss.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengaku belum mengetahui insiden tersebut.

Manajer dana investasi Bill Browder menilai peristiwa tersebut merupakan adanya keterlibatan dari Rusia. Browder dikenal sebagai figur yang gencar memimpin kampanye untuk mengekspos korupsi pejabat Rusia. Browder juga sempat disalahkan pemerintah Rusia atas kematian pengacaranya, Sergei Magnitsky, yang meninggal di sebuah penjara di Moskow, Rusia, pada 2009.

Browder menyebut Rusia menargetkan semua musuh di semua negara yang berbeda. Kata Browder, Rusia memiliki sumber daya yang besar dan menilai Davos sebagai tempat yang penting.

"Ini adalah satu-satunya tempat yang bisa saya datangi dan secara pribadi menantang para pejabat Rusia atas pembunuhan Sergei Magnitsky," ucap Browder.

Jaksa penuntut Rusia mencurigai Browder telah memerintahkan serangkaian pembunuhan, termasuk Magnitsky.

Polisi di Graubunden curiga ketika mengetahui bahwa dua orang Rusia itu berencana tinggal selama tiga minggu di resor Alpine yang terkenal mahal.

Tages-Anzeiger tidak menyebutkan nama dua agen yang dicurigai, atau menentukan jenis operasi mata-mata yang dilaporkan telah mereka persiapkan. Atase pers Kedutaan Rusia di Bern, Stanislav Smirnove mengatakan kepada BBC, dia baru mengetahui bahwa ada dua orang Rusia yang diperiksa pada Agustus tahun lalu dari media lokal. Smirnov menambahkan, dia tidak memiliki informasi tentang pemeriksaan dua warga Rusia pada Agustus.

Baca Juga

Dia berpendapat, koran Tages-Anzeiger mengeluarkan berita skandal yang tidak ada artinya. "Mereka hanya ingin mencari popularitas," ujar Smirnov.

Sebelumnya, pada 2018 dua pria Rusia ditangkap karena dicurigani memata-matai sebuah laboratorium di Swiss yang menyelidiki kecarunan pada Maret. Laboratorium di Spiez menganalisis keracunan yang dialami agen ganda Rusia dan putrinya di Inggris.

Aktivitas mata-mata oleh Rusia diakui Swiss meningkat di tahun 2018. Agensi Intelijen Swiss mengatakan tampak jelas ada peningkatan aktivotas mata-mata di Rusia.

"Saya tidak bisa memberi detail tentang aktivitas mata-mata Rusia di Switzerland, tapi jelas ada peningkatan," kata Direktur Intelijen Swiss, NDB, Jean-Philippe Gaudin. Dikutip dari BBC ia mengatakan tidak bisa menyebut berapa banyak kegiatan mata-mata. Tapi jumlahnya disebut signifikan.

Gaudin mengatakan, Switzerland dijadikan target karena kerap menjadi tuan rumah banyak pertemuan internasional. Terutama di Jenewa.

Katanya, upaya pengintaian bahkan tidak hanya dilakukan Rusia. Sejumlah agen dari negara lain juga terlibat.

Surat kabar Swiss Tages-Anzeiger dan surat kabar Belanda NRC Handelsblad mengatakan para agen dicurigai menuju laboratorium Spiez dekat Bern yang menganalisa senjata kimia dan biologi serta menguji agen saraf seperti Novichok.

Inggris mengatakan, Moskow menggunakan Novichok untuk mencoba membunuh mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal di kota Salisbury, Inggris, Maret lalu. Inggris menuduh dua pria Rusia atas percobaan pembunuhan itu. Insiden itu mengakibatkan Belanda mengusir dua orang yang dicurigai sebagai mata-mata Rusia pada Maret.
Jaksa Swiss pun melakukan investigasi serangan siber terhadap kantor World Anti-Doping Agency di Swiss. Kejaksaan Swiss mengatakan proses pengadilan mulai diluncurkan pada Maret 2017 karena dugaan spionase politik.

Menurut kejaksaan, orang-orang yang bersangkutan adalah orang yang sama dengan yang diidentifikasi oleh dinas intelijen Swiss sebelumnya.

Surat kabar Swiss Sonntags-Zeitung dikutip menyebut, menurut perkiraan badan intelijen Swiss, satu dari empat diplomat Rusia di Swiss bekerja sebagai perwira intelijen. Kedutaan Besar Rusia di Bern namun menyebut apa yang diungkap Swiss sebagai tindakan absurd.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA