Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

LPSK: Penyiksaan saat Pemeriksaan Tidak Pernah Dibenarkan

Rabu 22 Jan 2020 23:44 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Muhammad Hafil

LPSK: Penyiksaan saat Pemeriksaan Tidak Pernah Dibenarkan. Foto: Penyiksaan (Ilustrasi)

LPSK: Penyiksaan saat Pemeriksaan Tidak Pernah Dibenarkan. Foto: Penyiksaan (Ilustrasi)

Foto: IST
Seorang tersangka atau saksi dalam pemeriksaan tak boleh dalam tekanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengakuan terdakwa pengunjuk rasa pada aksi pelajar, Dede Lutfi Alfiandi  yang diduga telah mendapatkan penyiksaan oleh penyidik menyita perhatian publik. Kontan pengakuan pelajar STM tersebut menarik perhatian khalayak luas, tidak terkecuali dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Menurut Wakil Ketua LPSK Manager Nasution, seharusnya praktik penyiksaan dalam interogasi kepada tersangka sudah lama ditinggalkan oleh penyidik kepolisian. Sebab penyiksaan adalah pelanggaran hukum dan merupakan bentuk abuse of power. "Apalagi ini dilakukan kepada seorang anak, mestinya ada pendekatan dengan perspektif perlindungan anak.” ujar Nasution dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Rabu (22/1).

Nasution menjelaskan, aturan melakukan penyelidikan, penyidikan, penangkapan, hingga penahanan ada dalam KUHAP. Di dalam pasal 52 KUHAP menyatakan, dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim.

"Lalu pada pasal 117 KUHAP menyatakan bahwa keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun," terang Nasution.

Lebih jauh dari itu, Nasution berpandangan jika benar Lutfi mengalami penyiksaan, maka secara Berita Acara Penyidikan (BAP) menjadi tidak sah secara hukum dan dapat dijadikan dasar pembatalan dakwaan di pengadilan. Hal itu dapat dilihat dalam Pasal 15 UU No. 5 Tahun 1998 tentang pengesahan konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi.

"Atau merendahkan martabat manusia, yang berbunyi, segala pernyataan yang diperoleh sebagai akibat kekerasan dan penyiksaan tidak boleh diajukan sebagai bukti," tegas Nasution.

Untuk itu, Nasution meminta Kepolisian untuk pro aktif melakukan penyelidikan atas dugaan penyiksaan kepada Lutfi, agar isu yang berkembang tidak semakin liar. Jika ada dugaan polisi yang menangkap dan memeriksa melakukan penyiksaan, Nasution menyarankan juga kepada korban untuk segera melapor kepada Propam Polri.

"Propam harus langsung memproses perkara tersebut untuk mencari tahu benar tidaknya kabar penyiksaan. Kalau benar terbukti ada, saya berharap pelaku dapat dikenakan sanksi tegas. Bila perlu dipecat, agar menjadi peringatan bagi penyidik lainnya” tegas Nasution. 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA