Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Wuhan, Kota yang Ditutup Aksesnya Akibat Virus Corona

Kamis 23 Jan 2020 12:15 WIB

Red: Indira Rezkisari

Penumpang pesawat mengenakan masker melewati papan pengumuman menunjukkan pembatalan penerbangan dari Wuhan di Bandara Beijing, Kamis (23/1). Pemerintah menutup akses ke kota Wuhan yang berpenduduk 11 juta jiwa akibat virus corona.

Penumpang pesawat mengenakan masker melewati papan pengumuman menunjukkan pembatalan penerbangan dari Wuhan di Bandara Beijing, Kamis (23/1). Pemerintah menutup akses ke kota Wuhan yang berpenduduk 11 juta jiwa akibat virus corona.

Foto: AP
Petugas medis berjaga di akses keluar Wuhan, mengecek suhu warga yang ingin keluar.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rizky Jaramaya, Desy Susilawati

Baca Juga

Seluruh transportasi publik keluar dan masuk kota Wuhan, China, ditutup. Penutupan akses ke bus, kereta, dan feri dilakukan mulai pukul 10.00 waktu setempat, Kamis (23/1).

Upaya ini adalah bagian dari karantina untuk mencegah penyebaran virus corona lebih lanjut. Virus ini dipastikan telah membunuh 17 orang.

Pengumuman penutupan Kota Wuhan dilakukan Rabu (22/1) malam. Pemerintah meminta warga Wuhan tidak meninggalkan kotanya tanpa alasan khusus.

Petugas medis diposisikan di gerbang tol dan jalan raya besar. Mereka bertugas mengecek penduduk yang hendak keluar dari kota.

Di China daratan 571 orang dikonfirmasi terjangkit virus corona. Sisanya, dua di Hong Kong, masing-masing satu di Makau, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika. Sedang empat orang dikonfirmasi terjangkit virus corona di Thailand.

Seorang warga Wuham, Ding, yang mengendarai mobilnya keluar kota mengatakan jalanan penuh dan padat. Sebaliknya hanya sedikit kendaraan masuk ke arah kota Wuhan.

"Banyak yang mau keluar," katanya. "Ada petugas medis memeriksa tiap mobil. Mengecek suhu tiap penumpang. Orang boleh pergi, tapi jalanan macet karena skrining."

Warga Wuhan lainnya, Alex Wang, mengatakan banyak penduduk yang menumpuk stok makanan. "Sepotong kol sekarang harganya 35 yuan, itu beberapa kali lipat dibanding krisis," ujarnya, dikutip South China Morning Post.

"Pasokan di supermarket dengan jasa layanan daring tidak tersedia. Mal, jalanan besar, dan restoran yang biasanya sangat ramai sekarang sepi," kata Wang. "Seperti Kota Hantu. Jalanan sepi, bahkan di jam padat."

Menurutnya, banyak warga yang sudah bersiap meninggalkan kota sebelum ada pengumuman penutupan kota. "Banyak kerabat saya adalah pegawai negeri dan mereka tahu soal rencana penutupan ini beberapa hari sebelum pengumuman resmi. Jadi sepupu saya sudah meninggalkan kota sejak Senin untuk menghindari kepadatan."

Seorang warga Wuhan yang bekerja di salah satu hotel mengatakan tempat kerjanya tidak lagi menerima tamu. "Hotel kami hanya menerima tamu yang check-out, tidak menerima tamu yang masuk. Ini sangat serius. Kita harus mengenakan masker untuk keluar dan orang-orang bahkan sekarang juga mengenakan alat khusus penutup mulut."

photo
Seorang petugas memonitor layar termometer infared bagi pengguna kereta di Stasiun Kereta Hankou di Wuhan, Hubei, China, Selasa (21/1). Penyakit akibat virus corona jenis baru pertama ditemukan di Wuhan Desember lalu.

Di Luar Wuhan
Penyebaran virus corona terjadi menjelang liburan Tahun Baru Imlek. Biasanya warga China mengisi liburan ini dengan mudik ke kampung halaman atau pergi berlibur bersama keluarga di dalam negeri atau luar negeri.

Wabah ini telah membuat beberapa warga China memilih membatalkan perjalanan mereka. Salah satunya adalah seorang warga Beijing, Zhang Xinyuan yang membatalkan tiket perjalanan liburan keluarga ke Phuket, Thailand.

Zhang mengaku khawatir wabah virus corona dapat berkembang luas seperti wabah virus SARS yang terjadi pada 2002. "Kami akan tinggal di rumah selama liburan. Saya takut karena saya ingat bagaimana SARS terjadi," ujar Zhang.

Seorang warga Beijing lainnya, Fu Ning, mengaku takut dengan penyebaran wabah virus corona. Sebab, virus ini belum ditemukan obatnya.

"Saya merasa takut, karena tidak ada obat untuk virus ini. Anda harus mengandalkan kekebalan tubuh Anda jika terinfeksi. Kedengarannya sangat menakutkan," ujar Fu.

Warga China beramai-ramai membeli masker wajah untuk mencegah terkena virus corona. Mereka juga menghindari tempat-tempat umum seperti bioskop dan pusat perbelanjaan.

Bahkan beberapa warga China memainkan sebuah permainan simulasi wabah daring sebagai cara untuk mengatasinya. "Cara terbaik menaklukkan rasa takut adalah dengan menghadapi rasa takut," kata seorang warga dalam akun Weibo.

Kasus menyebarnya virus corona di Wuhan namun belum juga ditetapkan statusnya oleh WHO. Kemarin rencana pertemuan WHO dibatalkan, rencananya WHO akan bertemu kembali hari membahas Wuhan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan lembaganya membutuhkan lebih banyak informasi. WHO mengkategorikan apa yang terjadi di Wuhan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang berisiko ke negara lain dan membutuhkan koordinasi internasional.

Ketika ditanya mengenai penutupan transportasi Wuhan, Tedros mengatakan China bertindak demi mencegah penyebaran. "Kami tidak bisa bilang meeka sudah melakukan sesuatu di luar kewajaran," katanya, dikutip dari AP.

Dr David Heymann yang dulu mengepalai tim respons global WHO untuk SARS di tahun 2003 mengatakan, virus baru ini agaknya berbahaya bagi penduduk usia lanjut dengan tambahan kondisi kesehatan lain. Tapi virus ini disebut tidak seberbahaya seperti SARS dulu.

"Tampaknya dia tidak mudah bertransmisi lewat udara dan mungkin dia bertransmisi melalui kontak dekat. Dulu SARS tidak seperti itu," kata Heymann.

photo
Pelancong dari Wuhan, China, harus melewati pemindai suhu tubuh di Bandara Narita, Jepang. Virus corona misterius yang bermula di Wuhan telah menimbulkan korban keempat meninggal per 21 Januari 2020.



Dari Ular
Beberapa ilmuwan menduga virus mirip SARS yang baru ditemukan di China berasal dari ular. Kuman yang dimaksud, dijuluki 2019-nCoV untuk saat ini adalah jenis virus corona.

Laman Gizmodo melaporkan, penelitian terkait virus corona jenis baru ini dilakukan para peneliti di China. Penelitian memang dilakukan para ilmuwan bekerja sama dengan pemerintah China untuk mengetahui penyebab virus baru tersebut muncul.

Studi yang baru diterbitkan di dalam Journal of Medical Virology, Rabu (22/1), melihat bahwa kode genetik 2019-nCoV menjangkiti korban yang berkunjung ke pasar. Ketika kasus pertama pada Desember 2019 tersebut muncul di wilayah Wuhan, China, dokter mencurigai virus menyebar melalui hewan.

Hasil studi menyebutkan, banyak korban pertama telah mengunjungi pasar makanan lokal yang menampung hampir semua hewan hidup. Sejak saat itu, korban baru terus bermunculan dengan cepat.

Meski demikian, para peneliti menilai hal yang mengkhawatirkan adalah ketika virus justru mengjangkiti orang-orang yang tidak mengunjungi pasar. Hal ini membuktikan bahwa virus mampu menyebar dari orang ke orang seperti flu biasa.

Para peneliti mencoba membandingkan urutan genetik 2019-nCoV dengan spesies lainnya yang juga bisa menularkan virus corona. Analisa awal menemukan bahwa virus merupakan campuran antara corona kelelawar dan salah satu hewan lain yang tidak diketahui spesiesnya.

Rekombinasi virus tampak paling jelas di bagian RNA Virus karena memungkinakn mengenali reseptor permukaan sel. Peneliti kemudian menyimpulkan bahwa inang alami virus yang paling mungkin adalah dari ular.

Pasalnya, pola RNA yang terbagi pada virus corona yang ditularkan cocok dengan ular lainnya. Tak hanya itu, ular juga menjadi hewan yang diternakkan dan dijual di Tiongkok sebagai makanan dan pengobatan alternatif.

Menurut Brandon Brown, seorang peneliti kesehatan masyarakat dan ahli epidemiologi di University of California Riverside, masih ada banyak pertanyaan yang belum terpecahkan tentang 2019-nCoV dan potensinya untuk bencana.

Brown mengatakan kepada Gizmodo melalui surat elektronik ia melihat tidak ada alasan untuk menunda melakukan antisipasi virus. Sebab 2019-nCoV dapat menyebar antarmanusia, dan tidak diketahui pasti seberapa besar penularan dan risikonya lebih lanjut.

"Alternatifnya adalah berpotensi menghadapi epidemi global, yang dapat dihindari dengan melakukan sesuatu seperti mendeklarasikan keadaan darurat kesehatan masyarakat dan mempersiapkan diri dengan pendanaan tambahan dan perhatian," kata Brown.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA