Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

IDI: Vaksin Virus Corona Baru Bisa Diuji Coba 3 Bulan Lagi

Sabtu 25 Jan 2020 07:25 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Nur Aini

Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah Virus Corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), di Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/1/2020).

Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah Virus Corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), di Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/1/2020).

Foto: Antara/Novrian Arbi
Virus Corona bisa menyebabkan kematian layaknya SARS jika tidak ditangani dengan baik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum PB IDI, Daeng M Faqih menyatakan, percobaan imunisasi vaksin terkait penyebaran virus corona baru bisa dilakukan tiga bulan mendatang. Menurut dia, informasi itu datang dari para ahli terkait.

Baca Juga

“Iya baru bisa di trial ke pasien tiga bulan lagi,” ujar dia ketika dikonfirmasi Republika.co.id, Sabtu (25/1).

Menurut dia, proses imunisasi akan berlangsung seperti imunisasi pada umumnya. Di mana, proses tersebut akan diberikan secara langsung ke setiap orang sebagai pencegahan untuk tidak terkena infeksi.

Dia menyebut, imunisasi itu akan dilakukan oleh tenaga medis. Meskipun, ia tak mengatakan spesifikasi lainnya terkait informasi tersebut.

“Iya, ini salah satu pengembangan vaksin khusus corona,” tuturnya.

Daeng mengatakan, virus corona bisa menyebabkan kematian layaknya SARS apabila tak ditangani dengan baik. Namun demikian, ia tak menampik belum ada pengobatan efektif hingga saat ini, meskipun uji coba imunisasi atau pengembangan vaksin corona akan dilakukan tiga bulan mendatang.

Mengacu pada kasus SARS sebelumnya, ia menilai ada kemiripan dengan virus corona Wuhan. Namun demikian, meski keduanya memiliki risiko kematian, tetapi SARS dinilai lebih mematikan daripada corona.

Menurut dia, dugaan itu muncul karena dari 800-an orang yang terjangkit di China, hanya ada 25 orang yang dikatakan meninggal. Hal tersebut tentu berbeda dengan kasus SARS, di mana dari ribuan orang yang terjangkit penyakit itu, ribuan orang pula yang mengalami kematian.

“Artinya keparahan dalam menimbulkan kematian itu beda. jadi virus sekarang ini, kefatalannya rendah. Dan itu pun kematiannya tidak tunggal karena virus ini, tetapi karena ada penyakit yang menyertai,” ungkap dia.

Dia juga menyebut, gejala yang timbul dari kedua penyakit itu sama, dimulai dari pilek, batuk, nyeri otot dan sesak. Tetapi, keparahan kedua penyakit yang berasal dari hewan itu berbeda.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA