Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

WNI di Wuhan Pesimistis akan Dievakuasi Keluar

Rabu 29 Jan 2020 13:18 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas mengenakan pakaian pelindung berada di sekitar pesawat charter yang membawa warga Jepang dari Wuhan, China, di Bandara Haneda, Tokyo, Jepang, Rabu (29/1). Ratusan WNI di Wuhan, Hubei, China, berharap pemerintah segera mengevakuasi mereka.

Petugas mengenakan pakaian pelindung berada di sekitar pesawat charter yang membawa warga Jepang dari Wuhan, China, di Bandara Haneda, Tokyo, Jepang, Rabu (29/1). Ratusan WNI di Wuhan, Hubei, China, berharap pemerintah segera mengevakuasi mereka.

Foto: KIMIMASA MAYAMA/EPA-EFE
WNI di Wuhan dan Hubei disebut sudah mulai drop mentalnya.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Lintar Satria Zulfikar, Febrianto Adi Saputro, Ronggo Astungkoro, Sapto Andika Candra

Mental mahasiswa Indonesia di Wuhan, China, mulai menurun. Mahasiswa Huazhong University of Science and Technology, Wuhan, Khoirul Umam Hasbiy mengatakan saat ini mahasiswa dan Warga Negara Indonesia (WNI) mulai pesimistis dengan rencana evakuasi pemerintah Indonesia.

"Mahasiswa dan teman-teman mulai drop mentalnya, pasrah dan bahkan pesimistis ada rencana evakuasi dari pemerintah," kata Khoirul dalam pernyataannya yang diterima Republika.co.id, Rabu (29/1).

Khoirul belum dapat mengonfirmasi nama-nama mahasiswa yang mulai pesimistis. Ia juga menjelaskan pada Selasa (28/1) sudah ada WNI yang mengalami gejala batuk selama dua pekan.

Tapi WNI itu tidak bersedia melakukan pemeriksaan ke dokter. Karena khawatir akan dikarantina dan ditelantarkan. Sebab pasien-pasien di rumah sakit dan klinik-klinik membludak.

"Jadi mereka mengambil keputusan untuk diam. Berharap bisa pulang dan diperiksa di sana," kata Khoirul.

Menurutnya keputusan tersebut cukup berisiko. Ia juga mengatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sudah memberikan bantuan berupa pendanaan sebesar 280 renminbi atau sekitar Rp 560 ribu per orang untuk satu pekan.  

Baca Juga

"Ada beberapa bantuan yang ditawarkan kepada kami tapi bersifat 'kedaerahan' artinya untuk daerah dan kepada warga daerah itu sendiri. Saya tolak," tambah Khoirul.

Ada kurang lebih 243 WNI berada di Provinsi Hubei, China. Sebanyak 100 WNI di antaranya berada di Kota Wuhan.

Dikutip dari South China Morning Post, Selasa (28/1), WNI di Wuhan, Eva Taibe, mengaku sebenarnya dia takut meninggalkan kediamannya. Jalanan di Wuhan pasalnya cukup sepi, suara yang marak terdengar hanya ambulans yang mondar-mandir di jalanan.

Eva sudah sejak 2016 berada di Wuhan. Wanita berusia 37 tahun itu sedang menempuh studi psikologi di Central China Normal University (CCNU) Wuhan. Eva dan warga Indonesia lainnya sudah meminta Kedutaan Besar di Beijing mengirimkan makanan, obat, dan vitamin C. Termasuk meminta agar mereka dievakuasi keluar dari China.

Mereka hanya bisa menunggu kabar. "Setiap hari kami berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Mereka dan kami semua khawatir. Kami juga terus berkoordinasi dengan kedutaan."

Eva menambahkan, warga Indonesia di Wuhan fokus pada menjaga kesehatan dan menguatkan mental satu sama lain.

Mahasiswa Indonesia lainnya yang sekolah di CCNU, Yuliannova Lestari Chaniago, mengatakan meski bertahan di Wuhan menakutkan, prospek pulang ke Indonesia juga menakutkan baginya. "Kami tidak yakin orang di Indonesia mau menerima kami. Mereka bisa menganggap kami membawa virus," kata Yuliannova yang sudah tiga tahun tinggal di Wuhan.

Tempat tinggal Yuliannova apalagi hanya sejauh 30 menit perjalanan metro dari pasar ikan Huanan tempat virus diduga berasal. Orang tuanya sudah menganjurkan dia untuk tidak keluar rumah jika tidak perlu dan tidak menyantap aneka daging.

Di tengah ketidakpastian, Yuliannova mengatakan para orang Indonesia di sana mencoba menikmati suasana. Mereka menghibur diri dengan membuat parodi wawancara selebritas di rumah dan melakukan yang terbaik untuk meyakinkan keluarga di Tanah Air bahwa mereka baik-baik saja.

"Kami menyerahkan semuanya ke Kedutaan Indonesia di Beijing. Saya tahu mereka bekerja semampu mungkin agar kami bisa dievakuasi. Saya percaya pada pemerintahan kami."

photo
Petugas medis mengenakan pakaian proteksi lengkap di kota Wuhan, China, yang terkena wabah virus Corona.



Presiden Joko Widodo hari ini mengutarakan lagi alasan utama di balik belum dievakuasinya WNI dari China, menurut Jokowi, adalah kebijakan pemerintah setempat yang masih mengunci (lock down) 15 kota yang warganya paling banyak terinfeksi virus korona, terutama Wuhan. Pemerintah Indonesia pun tak bisa sembarangan mengeluarkan orang dari dari dalam kota-kota tersebut. 

"Berkaitan dengan evakuasi WNI kita yang ada di Wuhan dan 15 kota lain, yang di locked, tentu saja pemerintah memiliki opsi untuk evakuasi. Tetapi sekali lagi, kota-kota itu masih dikunci," ujar Jokowi usai meninjau Puskesmas Cimahi Selatan, Cimahi, Jawa Barat, Rabu (29/1).

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mendesak agar pemerintah segera mengevakuasi WNI yang masih berada di Wuhan. Abdul berharap Kementerian Luar Negeri RI bisa meminta pemerintah Cina membuka jalur evakuasi warga negara Indonesia yang saat ini masih berada di  Wuhan dan sekitarnya.

"Kemenlu segera desak pemerintah China agar bisa berikan pertimbangan dan saran tindakan evakuasi, sudah makin banyak korban, hari ini saja meningkat dua kali lipat yang sebelumnya hanya 2.000-an menjadi 4.000 lebih, dengan korban meninggal lebih dari 100 jiwa," kata Kharis dalam keterangan tertulisnya.

Kharis menjelaskan, belasan negara berupaya mengevakuasi warganya dari kawasan Virus Corona. Ia berharap, para WNI bisa langsung dibawa ke Indonesia apabila dimungkinkan, atau dievakuasi keluar dari wilayah karantina dan tetap berada di wilayah China.
 
"Pemerintah harus siapkan kondisi terburuk seperti evakuasi dan karantina sesuai dengan SOP penanganan internasional dalam menghadapi virus ini, sehingga WNI yang dievakuasi harus dipastikan kesehatan dan keselamatannya sebelum sampai ke tanah air” kata politikus PKS tersebut.

Kendati demikian, Kharis mengapresiasi travel advice yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri ke Provinsi Hubei, Cina. Namun Kharis mengingatkan agar lebih baik diperluas bukan hanya Provinsi Hubei tapi juga ke semua wilayah karantina di China. Dan untuk sementara waktu ke depan WNI tidak berkunjung terlebih dahulu ke sana.
 
"Kalau perlu tunda dulu ke China sampai pemerintah China bisa memastikan dan menghentikan isolasi di sana dan juga menyatakan wilayah tersebut telah aman untuk dikunjungi," imbaunya.

TNI Angkatan Udara (AU) telah menyiagakan pesawat untuk keperluan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah karantina virus corona di Cina. Selain itu, TNI juga sudah menyiapkan personel dari batalyon kesehatan.

"Kita sudah siapkan pesawat Boeing 737 dan satu C130 Hercules. Kita juga siapkan personel dari batalyon kesehatan," jelas Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau), Marsma TNI Fajar Adriyanto.

Fajar menjelaskan, TNI AU akan siap membantu jika memang dibutuhkan. Menurut dia, kini TNI masih menunggu kabar dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terkait boleh tidaknya pemerintah Indonesia masuk ke wilayah karantina tersebut.

"Tunggu dari Kemenlu bisa tembus tidak ke pemerintah sana untuk agar kita bisa berangkat atau tidak, yang jelas TNI AU siap 24 jam," katanya.

Dia menerangkan, ada tiga pesawat yang disiagakan oleh TNI AU, yakni dua pesawat Boeing dan satu pesawat Hercules. Ketiganya diperkirakan dapat mengangkut kurang lebih 200 orang dalam sekali perjalanan. TNI AU akan menggunakan Bandara Halim Perdana Kusuma sebagai tempat mendarat.

"Ada dua Boeing dan satu Hercules. Kalaupun harus mengangkut sampai 100-200 orang masih mampu," jelas dia.

photo
Infografis Virus Corona.





BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA