Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Wabah Virus Corona, Apa Kabar Olimpiade Tokyo?

Rabu 29 Jan 2020 14:59 WIB

Red: Indira Rezkisari

 Turis mengenakan masker berfoto dengan latar logo Olimpiade di Odaiba, Tokyo, Jepang, Rabu (29/1). Jepang telah mengevakuasi warganya dari China yang terkunci akibat virus corona.

Turis mengenakan masker berfoto dengan latar logo Olimpiade di Odaiba, Tokyo, Jepang, Rabu (29/1). Jepang telah mengevakuasi warganya dari China yang terkunci akibat virus corona.

Foto: AP
Virus corona akibatkan sejumlah agenda olahraga terpaksa dibatalkan atau ditunda.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Ikhwanuddin

Penyebaran virus corona bisa jadi mengancam keberlangsungan Olimpiade 2020 Tokyo yang akan digelar pertengahan tahun ini. National Olympic Commitee (NOC) atau Komite Olimpiade Indonesia (KOI) berharap tidak ada kekhawatiran berlebihan soal wabah virus corona dan ajang  Olimpiade 2020 Tokyo.

Ketua Umum KOI, Raja Sapta Oktohari mengatakan belum mendapat peringatan apapun dari International Olympic Committee (IOC) yang menghubungkannya dengan Olimpiade Tokyo, meski ajang olahraga terbesar di dunia itu akan digelar 24 Juli hingga 9 Agustus mendatang.

"Sampai hari ini kami belum menerima peringatan apapun dari International Olympic Committee. Artinya, kekhawatiran itu ada tapi jangan berlebihan. Tapi kalau dikembalikan ke NOC, kita harus mengutamakan keselamatan atlet," kata Okto, panggilan akrabnya, kemarin.

Wabah virus corona sudah mempengaruhi beberapa ajang olahraga. Misalnya, Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia Atletik yang dilangsungkan Februari-Maret dibatalkan oleh Asosiasi Atletik Asia (AAA).

Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dalam akun Instagram resminya mengumumkan batalnya pemberangkatan atlet ke China. Para atlet direncanakan mengikuti 9th Asian Indoor Championships, 12-13 Februari di Hangzhou dan World Athletics Indoor Tour di Nanjing, 13-15 Maret.

Kualifikasi tinju Olimpiade 2020 yang sebelumnya akan digelar di Wuhan pun dipindahkan ke Amman, Yordania, karena wabah tersebut. Selain itu, Komite Eksekutif Badminton Asia Federation, Bambang Roedyanto dalam akun Twitter-nya menyebut kemungkinan Olimpiade 2020 akan ditunda karena virus corona.

"Akhir Februari ada lomba maraton di Tokyo. Bisa di-cancel kalau korban corona virus bertambah. Yang kita khawatirkan adalah Olympic. Kalau sampai April belum selesai, chance OG (Olympic Games) diundur bisa terjadi. Bayangkan jutaan orang semua kumpul di Tokyo demi OG," tulisnya.

Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) memutuskan membatalkan keberangkatan tim bulutangkis dari kejuaraan Lingshui China Masters 2020 karena wabah virus corona yang melanda China. Turnamen level Super 100 itu rencananya akan digelar di kota Lingshui, 25 Februari-1 Maret mendatang.

Baca Juga



Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti menyampaikan, Indonesia rencananya mengirim 44 pemain ke Lingshui China Masters 2020, diantaranya adalah Juara Dunia Junior 2019, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay, Ni Ketut Mahadewi Istarani/Tania Oktaviani Kusumah dan lainnya.

"Situasi di China kurang kondusif, wabah virus corona ini kan membahayakan sekali. Kami harus menjaga pemain kami. Kami dapat info juga beberapa tim Indonesia dari cabor lain yang sedang latihan di China, juga sudah ditarik kembali ke Indonesia," kata Susy.

"Memang belum ada travel warning ke China, tapi ini kan menyangkut atlet-atlet muda kami, dan amit-amit jangan sampai, kalau nanti di sana sakit dan tertular kan bahaya sekali. Kami cari aman saja, apalagi ini kan jelang Olimpiade," ujarnya melanjutkan.

Susy mengatakan, PP PBSI tetap menjaga hubungan baik dengan asosiasi bulutangkis China dengan memberi penjelasan terkait penarikan pemain dari kejuaraan berhadiah total 90 ribu dolar AS tersebut.

Menurutnya, PP PBSI juga telah memberikan laporan penarikan pemain di turnamen itu kepada Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) melalui Kasubid Hubungan International PP PBSI, Bambang Roedyanto. Sementara itu, PP PBSI kemungkinan besar juga akan membatalkan keberangkatan pemain ke Badminton Asia Championship 2020 yang rencananya akan dilangsungkan di Wuhan, awal April mendatang.

Wuhan merupakan kota pertama di China yang menjadi lokasi penemuan warga setempat yang terjangkit virus corona. Susy berpendapat, kemungkinan besar turnamen tersebut bisa saja dipindahkan ke negara lain. Pasalnya, kejuaraan itu merupakan penentu akhir poin menuju Olimpiade Tokyo.

"Sepertinya ke Wuhan juga akan dibatalkan, belum ada keputusan, tapi kemungkinan besar akan batal berangkat. Namun rasanya akan dipindahkan turnamennya ke negara lain, karena sangat berisiko sekali, apalagi tempatnya tepat di Wuhan," ujar Susy.

Sementara itu, tim Indonesia tetap dijadwalkan mengikuti turnamen Badminton Asia Team Championship 2020 yang akan dilangsungkan di Manila, Filipina, pada 11-16 Februari mendatang.

Sejauh ini, belum ada travel warning terkait virus Corona di Filipina, namun berdasarkan imbauan dari pemerintah, para atlet dan tim wajib diberi vaksin polio sebagai tindakan preventif, sama seperti sebelum keberangkatan tim SEA Games 2019 lalu ke Manila. Tim Badminton Asia Team Championship 2020 rencananya akan bertolak dari Jakarta menuju Manila pada Sabtu depan.

"Ke Manila masih on schedule, sejauh ini dari pemerintah belum ada travel warning ke Manila. Tapi ada arahan dari pemerintah untuk pemberian vaksin Polio kepada atlet dan tim ofisial yang akan berangkat," ucap Susy.

Data terbaru menunjukkan 132 orang telah meninggal akibat virus corona. Total kasus corona yang terkonfirmasi telah mencapai 5.974.

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (29/1), total jumlah penderita di daratan China itu telah melebih angka penderita SARS yang menjadi epidemik di China pada 2002-2003. Ketika itu 600 orang meninggal akibat SARS di seluruh dunia.

Peningkatan angka kematian akibat corona dibarengi pula peningkatan jumlah kasus baru corona. Sebanyak 840 kasus baru corona ditemukan di Provinsi Hubei saja, tempat Kota Wuhan berada.

Berdasarkan data WHO, sebanyak 5.327 orang di China daratan terkena SARS dalam kurun waktu sembilan bulan. Ketika itu 349 di antaranya meninggal dunia.

Virus corona baru mulai teridentifikasi sejak pertengahan Desember 2019. Artinya, penyakit akibat corona baru merebak satu setengah bulan saja.

Saat ini 3.300 orang dirawat di Provinsi Hubei. Sebanyak 20 ribu orang diobservasi untuk infeksi.

Angka kematian akibat corona terus meningkat. Kebanyakan pasien yang meninggal berusia lebih dari 60 tahun dan memiliki kondisi penyerta, menurut laporan pejabat lokal.




BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA