Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

12 Jiwa Meninggal Akibat DBD Hingga Akhir Januari 2020

Rabu 29 Jan 2020 23:00 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang anak yang terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) mendapat perawatan intensif tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Kota Dumai, Riau, Rabu (27/11/2019).

Seorang anak yang terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) mendapat perawatan intensif tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Kota Dumai, Riau, Rabu (27/11/2019).

Foto: Antara/Aswaddy Hamid
Kemenkes menyebut jumlah kesakitan DBD Nasional hingga 27 Januari 1.358 kasus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat secara nasional sebanyak 12 jiwa meninggal akibat menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) selama Januari 2020 hingga akhir bulan yang sama. Kendati demikian, angka ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, jumlah kesakitan akibat DBD secara nasional sebanyak 1.358 kasus mulai awal Januari 2020 hingga 27 Januari 2020."Kemudian angka kematiannya 12 jiwa," katanya saat ditemui di acara Wuhan corona virus PB Papdi, di Jakarta, Rabu (29/1).

Meski yang meninggal lebih dari 10 orang, ia menyebutkan angka kematiannya menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu mencapai 110 orang meninggal akibat nyamuk aedes aegypti tersebut. Tak hanya itu, ia menyebutkan jumlah kasusnya juga jauh berkurang dibandingkan tahun lalu yakni sebanyak 11.224 kasus.

Ia menyebutkan, bencana banjir yang menyapu daerah-daerah beberapa waktu lalu ikut menghempaskan jentik-jentik nyamuk tersebut. Efeknya, dia melanjutkan, populasi nyamuk aedes aegypti masih sedikit. Mengenai Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT)  yang menyatakan status kejadian luar biasa (KLB) DBD, ia mengakui dua orang di wilayah itu meninggal akibat gigitan nyamuk ini.

Ia menyebutkan, NTT berpotensi menjadi wilayah endemis penyakit ini karena warga setempat kekurangan air dan menampung air di gentong. Sayangnya wadah penampung air itu tidak dibersihkan dan disemprot dengan larvasida.

Akhirnya, dia melanjutkan, larva nyamuk berkumpul di situ. Karena itu, ia meminta masyarakat jangan lengah dan terus waspada DBD hingga akhir musim penghujan pada Maret 2020."Puncak DBD pada Januari-Februari ini," ujarnya.

Ia mengklaim pemerintah terus berupaya mengatasi DBD diantaranya kepala daerah sudah membagikan surat edaran ke dinas kesehatan setempat untuk waspada. Selain itu, dia menambahkan, tenaga kesehatan (nakes) pusat kesehatan masyarakat sudah datang ke rumah-rumah penduduk dan membagi abate.

Kemudian, dia melanjutkan, persediaan logistik obat seperti jarum, cairan infus, tempat tidur juga dipastikan ada. Di satu sisi, ia meminta masyarakat melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan 3M plus.

"Pastikan tempat-tempat jentik nyamuk tidak ada. Kemudian kalau demam tiga hari tidak turun-turun, segera cek ke rumah sakit," ujarnya.

Ia menegaskan, pengobatan ini penting segera dilakukan dan tidak boleh terlambat karena bisa jadi demam penderita DBD terasa turun di hari keempat atau kelima. Padahal, dia melanjutkan, di fase itu penderita mengalami kondisi syok.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA