Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

20 Ribu Orang Indonesia Menderita Kusta

Jumat 31 Jan 2020 15:20 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Dwi Murdaningsih

Kusta

Kusta

Foto: 7amlha.com
Penderita kusta mayoritas berada di Indonesia Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat prevalensi kasus penyakit kusta di Indonesia hampir 20 ribu penderita hingga akhir Januari 2020. Mayoritas kasus terjadi di wilayah Indonesia bagian timur.

"Angka kusta mendekati hampir 20 ribu penderita," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono saat temu media mengenai kusta sedunia, di Kemenkes, Jakarta, Kamis (30/1).

Baca Juga

Dia melanjutkan, kusta termasuk penyakit tropis yang meski sudah hampir tidak ditemukan di Tanah Air ternyata kasusnya masih sangat tinggi di wilayah timur Indonesia. Kini, ia menyebutkan, pemerintah terus berupaya menemukan kasus secara masif.

Ia menyebutkan, penemuan kasus menggunakan beberapa pendekatan, salah satunya Rapid village survey di desa kemudian skrining di sekolah melalui program usaha kesehatan sekolah (UKS). Tak hanya itu, ia menyebutkan tim dokter telah memiliki pengetahuan mengenai penyakit ini dan ada sistem rujukan pelayanan kesehatan.

"Kemudian, penderitanya bisa segera mendapatkan pengobatan. Kami juga melakukan upaya pengobatan secara menyeluruh sehingga bisa mengurangi kecacatannya," ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu menambahkan, delapan wilayah di Indonesia belum bebas kusta. "Delapan provinsi belum eliminasi kusta yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara," katanya.

Ia mengakui, mayoritas penderita kusta ditemukan di wilayah bagian timur. Kendati demikian, pihaknya belum tahu persis mengapa kasus kusta di wilayah-wilayah itu tinggi.

"Belum ada kajian, mungkin bisa karena di daerah pesisir, tapi semua tergantung sumber daya manusia (SDM) nya. Makanya kami fokus penemuan kasusnya," ujarnya.

Ia menyebutkan meski setiap orang memiliki kuman kusta yaitu bakteri Mycobacterium leprae, tetapi semua tergantung daya tahan tubuh mereka. "Penyakit ini juga bisa ditularkan melalui partikel air liur (droplet) dan kontak terus menerus dengan penderita yang masuk ke orang dengan daya tahan tubuh menurun," ujarnya.

Dia menyebutkan masa inkubasi penyakit ini lama antara dua hingga lima tahun, bahkan bisa 10 tahun. Kemudian, dia melanjutkan, penyakit ini muncul dengan ciri-ciri bercak dan berwarna kemerahan di pinggir, kemudian tidak terasa ketika disentuh, dan tidak gatal. Ia menambahkan, jika terlambat ditangani maka penderita bisa mengalami kecacatan.

"Pengobatannya selama enam bulan untuk kusta kering dan setahun untuk penderita kusta basah," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia Sri Linuwih Menaldi menambahkan, tingginya penderita kusta di wilayah timur Indonesia masih jadi persoalan Indonesia. "Sebab kasusnya tidak terdeteksi sejak awal karena gejalanya mirip penyakit kulit lainnya seperti panu, kurap, eksim. Padahal keterlambatan deteksi dini mengetahui sakit kusta menyebabkan kuman tetap ada dan rantai penularan tetap berlangsung," ujarnya.

Ia menjelaskan, deteksi dini penyakit ini bisa dilakukan dan begitu terungkap menderita kusta bisa mendapatkan pengobatan gratis di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Jika tak terlambat ditangani, ia menyebut pasien kusta bisa sembuh 100 persen. Oleh karena itu ia mengimbau masyarakat untuk peka dan segera berobat bila melihat tanda-tanda kusta sejak dini diantaranya bercak putih atau bercak merah dan mati rasa.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA