Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Dampak Larangan Wisman Cina ke Indonesia Menurut BPS

Senin 03 Feb 2020 15:31 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Yudha Manggala P Putra

Sejumlah penumpang pesawat mengenakan masker di area Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (31/1/2020).

Sejumlah penumpang pesawat mengenakan masker di area Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (31/1/2020).

Foto: Antara/Fikri Yusuf
Larangan kunjungan wisman Cina ke Indonesia terkait pencegahan virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memprediksi, larangan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) Cina ke Indonesia terkait corona">virus Corona akan memberikan dampak terhadap jumlah kunjungan wisman keseluruhan ke Indonesia. Sebab, turis asal Cina berkontribusi besar terhadap total kunjungan wisman.

Berdasarkan catatan BPS, sepanjang 2019, kontribusi pelancong asal Cina mencapai 12,86 persen dari total kunjungan wisman ke Indonesia dari 16,1 juta kunjungan wisman. Artinya, sekitar 2 juta orang Cina berwisata ke Indonesia pada tahun lalu.

"Kalau kita lihat ada larangan untuk berkunjung ke sini, pasti ada pengaruh," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (3/2).

Suhariyanto mengatakan, angka 12,86 persen bukanlah angka yang kecil. Jumlah wisman Cina tersebut menjadi kontributor terbesar kedua terhadap kunjungan wisman ke Indonesia secara total. Sumbangan terbesar pertama diberikan oleh wisman Malaysia. Sepanjang tahun lalu, sebanyak 2,9 juta orang Malaysia berkunjung ke Indonesia, atau sekitar 18,0 persen dari total kunjungan wisman.

Secara keseluruhan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sepanjang 2019 mencapai 16,11 juta kunjungan. Jumlah tersebut naik 1,88 persen dibandingkan 2018 yang berjumlah 15,81 juta kunjungan. Salah satu kenaikan terbesar terjadi pada kunjungan wisman asal Vietnam, Filipina dan Malaysia yang masing-masing tumbuh 26,65 persen, 19,78 persen dan 19,07 persen.

Suhariyanto mengatakan, kenaikan tipis ini patut menjadi perhatian pemangku kepentingan. Masih banyak tantangan untuk menarik jumlah wisman lebih banyak ke Indonesia dan meningkatkan spending atau pengeluaran mereka. "Dengan begitu, bisa berdampak lebih besar pada ekonomi Indonesia," katanya.

Dari total 16,11 juta kunjungan wisman pada tahun lalu, sebanyak 9,38 juta di antaranya datang melalui pintu masuk udara. Sementara itu, sebanyak 4,16 juta kunjungan melalui pintu masuk laut dan sisanya, 2,11 juta kunjungan, melalui pintu masuk darat.

Kenaikan juga terjadi apabila dilihat secara month-to-month, atau dibandingkan antara Desember 2019 dengan November 2019. Pada Desember 2019, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia adalah 1,38 juta kunjungan, naik 7,52 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu 1,28 juta kunjungan.

Suhariyanto menjelaskan, kenaikan tersebut terbilang wajar mengingat Desember merupakan musim liburan. Selain liburan sekolah, ada libur Natal dan Tahun Baru yang kerap dimanfaatkan banyak orang untuk berwisata ke Indonesia. "Di Eropa juga ada musim dingin, sehingga masyarakat sana banyak mencari tempat yang lebih hangat seperti Indonesia," katanya.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri melarang sementara pendatang dari Cina untuk masuk dan transit di Indonesia. Pemerintah secara resmi menutup penerbangan dari dan ke Cina mulai Rabu (5/2).

Adinda Pryanka

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA