Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Akademisi: Media Massa Kini Kalah dari Media Sosial

Sabtu 08 Feb 2020 06:43 WIB

Rep: Febrian Fachri / Red: Ratna Puspita

Ilustrasi Media Sosial. Akademisi mengatakan saat ini posisi dan peran media massa sudah kalah oleh media sosial dalam penyampaian informasi.

Ilustrasi Media Sosial. Akademisi mengatakan saat ini posisi dan peran media massa sudah kalah oleh media sosial dalam penyampaian informasi.

Foto: Republika/Mardiah
Jurnalis harus usaha untuk mendapatkan sesuatu lebih mendalam, akurat, meyakinkan.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang Abdullah Khusairi mengatakan saat ini posisi dan peran media massa sudah kalah oleh media sosial dalam penyampaian informasi. Sebab, menurut Abdullah, perkembangan teknologi dan tingginya minat masyarakat menggunakan media sosial membuat peran media massa tak lagi sekuat dahulu. 

"Hari ini media massa itu berada di belakang media sosial, ketika media sosial sudah mengambil seluruh fungsi media massa," kata Abdullah dalam diskusi bertema Pers, Media Sosial dan Tanggung Jawab di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang, Jumat (7/2).

Abdullah mencontohkan untuk mengetahui sebuah peristiwa, publik kini lebih cenderung mengakses informasi dari media sosial. Di media sosial, menurut pria yang sehari-hari mengajar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN IB Padang ini, informasi yang disampaikan hampir memenuhi seluruh unsur 5W+1H.

Baca Juga

Peran media massa kini bagi publik, menurut Abdullah, tinggal untuk mencari tahu unsur why atau mengapa yang lebih komprehensif dan mendalam dari sebuah peristiwa. Untuk itu, Abdullah meniali, seharusnya media massa harus mencari cara agar kembali kepada jati diri sebagai garda depan penyampai informasi bagi masyarakat.

Salah satu caranya, menurut Abdullah, para jurnalis yang bekerja di perusahaan pers harus lebih gigih dalam mendapatkan berita dengan penyajian yang mendalam, akurat, dan meyakinkan. Namun, Abdullah menyayangkan saat ini cukup sering jurnalis media massa yang justru menyajikan berita dengan mengutip pernyataan-pernyataan narasumber dari akun sosial media. 

Abdullah menambahkan fakta yang bersirkulasi di media sosial seharusnya mengutip informasi dari media massa dan bukan malah sebaliknya. Bukan hanya media online atau cetak, Abdullah menilai, media televisi juga mengambil informasi dari media sosial sebagai video viral dan trending topic sebagai bahan berita.

"Ketika media massa mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi, di situlah letak kekalahan media massa," kata Abdullah menambahkan.

Di sisi lain, menurut Abdullah, praktik media massa mengutip media sosial sebenarnya memancing cibiran publik. Sebab, tanpa dikutip menjadi berita di media massa pun, publik juga dapat mengakses pernyataan narsum tersebut lewat media sosial.

Untuk itu, Abdullah mendorong media massa agar dapat mengembalikan posisi sebagai garda depan dalam penyampaian berita terpercaya. Karena pemberitaan di media massa, menurut Abdullah, lebih dapat dipertanggungjawabkan ketimbang di media sosial.

"Jurnalis harus ada usaha lebih untuk mendapatkan sesuatu yang lebih mendalam, lebih akurat, lebih meyakinkan. Karena itulah yang membuat media massa kuat. Kalau tidak, media massa akan terus berada di belakang media sosial," ucap Abdullah.

Diskusi Pers, Media Sosial dan Tanggung Jawab di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang ini selain Abdullah Khusairi, juga menghadirkan Praktisi Hukum Arief Paderi dan Influenser Bayu Haryanto. Diskusi ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Padang dan sejumlah jurnalis media massa di Kota Padang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA