Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Indonesia Alami 400 Bencana dalam Dua Bulan di 2020

Senin 10 Feb 2020 21:08 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Agus Yulianto

Warga korban longsor dan banjir bandang mengangkut bantuan yang di berikan organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Desa Lebak Situ, Kecamatan Lebak Gedong, Banten, Minggu (12/1).

Warga korban longsor dan banjir bandang mengangkut bantuan yang di berikan organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Desa Lebak Situ, Kecamatan Lebak Gedong, Banten, Minggu (12/1).

Foto: Thoudy Badai_Republika
Bencana hidrometeorologi dominan terjadi dengan 94 orang meninggal dan 2 orang hilang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tahun 2020 tampaknya menjadi tahun penuh cobaan bagi masyarakat Indonesia. Dalam dua bulan di awal 2020, Indonesia mengalami 400 bencana. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo mengatakan, lebih dari 400 bencana terjadi hingga minggu ketiga Februari 2020. Bencana hidrometeorologi dominan terjadi hingga mengakibatkan korban meninggal dunia 94 orang dan hilang 2 orang. 

photo
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo memberikan pemaparan mengenai dampak dan penanganan darurat gempa bumi.

Bencana hidrometeorologi yang dominan tersebut seperti banjir sebanyak 171 kejadian, puting beliung 155, tanah longsor 98 dan gelombang pasang atau abrasi dua kejadian. Dari sejumlah kejadian ini, banjir merupakan yang paling banyak memakan korban meninggal dunia sebanyak 86 orang, kemudian korban meninggal akibat tanah longsor lima orang dan puting beliung tiga orang. 

Catatan BNPB dari awal tahun hingga 10 Februari 2020 ini, lanjut Agus, bencana banjir memberikan dampak paling besar dibandingkan bencana lain. Peristiwa-peristiwa lainnya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 28 kejadian dan gempa bumi satu.

"Jadi total jumlah kejadian bencana sepanjang awal tahun Januari hingga minggu ketiga Februari 2020 berjumlah 455 kejadian," kata Agus dalam siaran pers, Senin (10/2).

Selain berdampak pada korban jiwa, sejumlah kejadian bencana tadi mengakibakan kerusakan infrastruktur seperti tempat tinggal dan fasilitas lain, seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan jembatan. Jumlah total rumah rusak dengan kategori rusak berat mencapai 2.512 unit, rusak sedang mencapai 1,725 dan rusak ringan 6.707.

Sedangkan kerusakan infrastruktur lain, seperti fasilitas pendidikan berjumlah 142, peribadatan 121, perkantoran 47 dan kesehatan 11. Dari total kerusakan ini, hanya 5 rumah dengan kategori RS disebabkan karena gempa bumi, sedangkan sisanya disebabkan bencana hidrometeorologi.  

Selanjutnya, kata Agus dalam catatan BNPB sebanyak 994.932 orang tercatat menderita dan mengungsi akibat bencana. Tiga wilayah provinsi dengan jumlah bencana tinggi yaitu Jawa Tengah 119 kejadian, Jawa Barat 72 dan  Jawa Timur 69.

BMKG sebelumnya menginformasikan bahwa berdasarkan analisis spasial distribusi curah hujan, perkembangan musim hujan akan terjadi hingga akhir Januari 2020. 99 wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan sedangkan satu persen wilayah masih mengalami musim kemarau.

Beberapa wilayah yang sudah memasuki musim hujan meliputi Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, Pulau Kalimantan, sebagian besar Sulawesi Utara, Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian besar Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua. 

BMKG juga merilis prakiraan curah hujan harian dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode hingga 13 Februari 2020 berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Sehubungan dengan fenomena alam terkait iklim dan cuaca, masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi ancaman bahaya, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang maupun petir. Masyarakat dapat terus memantau informasi prakiraan cuaca maupun informasi kewaspadaan terkait cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG, BNPB dan BPBD.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA