Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Fenomena Gunung Es Penyebaran Virus Corona Baru

Selasa 11 Feb 2020 08:36 WIB

Red: Budi Raharjo

Petugas berpakaian pelindung menyisir bangunan yang diduga terinfeksi virus corona di Hong Kong, Selasa (11/2). Seluruh warga dievakuasi setelah dua orang penghuninya terinfeksi corona.

Petugas berpakaian pelindung menyisir bangunan yang diduga terinfeksi virus corona di Hong Kong, Selasa (11/2). Seluruh warga dievakuasi setelah dua orang penghuninya terinfeksi corona.

Foto: AP Photo/Kin Cheung
Ada beberapa penyebaran lanjutan corona dari orang-orang tanpa riwayat pergi ke Cina

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Penularan virus corona baru (2019-nCoV) sudah terdeteksi di sedikitnya 25 negara dengan total penularan mencapai 452 kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khawatir angka tersebut merupakan fenomena puncak gunung es semata.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan soal penyebaran virus corona yang lebih luas. Hal itu mengingat adanya penularan dari orang-orang tanpa riwayat perjalanan ke Cina.

“Ada beberapa contoh terkait penyebaran lanjutan virus corona dari orang-orang tanpa riwayat perjalanan ke Cina. Deteksi sejumlah kecil kasus dapat mengindikasikan penularan yang lebih luas di negara lain,” kata Ghebreyesus melalui akun Twitter pribadinya, Senin (10/2).

Saat ini, penularan virus corona terbanyak di luar Cina adalah di Jepang (161 kasus), Singapura (43 kasus), Hong Kong (36 kasus), Thailand (32 kasus), dan Korea Selatan (27 kasus). Setidaknya di Singapura, penularan yang terjadi di negara itu sudah dikonfirmasi.

Menurut Ghebreyesus, penyebaran wabah yang saat ini terpantau atau terlihat mungkin hanya fenomena gunung es. Artinya, terdapat kemungkinan jumlah korban yang terinfeksi virus jauh lebih banyak. Dalam keadaan darurat kesehatan masyarakat yang berkembang, Ghebreyesus meminta semua negara meningkatkan upaya untuk mempersiapkan kemungkinan masuknya virus korona ke wilayah mereka masing-masing.

“Ini berarti kapasitas laboratorium untuk diagnosis cepat, pelacakan kontak, dan alat-alat lain dalam gudang kesehatan masyarakat,” ujar Ghebreyesus. Meski begitu, Ghebreyesus meminta agar negara-negara tetap tenang. Mereka yang memiliki informasi terkait virus corona juga didorong untuk membaginya dengan WHO.

Meski sejauh ini belum ada laporan penularan di Indonesia, sejumlah pihak menyoroti proses pendeteksian yang dinilai tak sebegitu ketat. Pekan lalu, Sidney Morning Herald melaporkan, seorang warga Australia yang tinggal di Bali telah didiagnosis menderita pneumonia. Namun, yang bersangkutan mengkritik prosedur yang dilakukan otoritas kesehatan setempat dalam pemeriksaan serta penanganan penyakit yang dideritanya.

Sejumlah penumpang pesawat dari luar negeri, seperti Singapura, yang tiba di Indonesia juga menuturkan kisah serupa. “Kami hanya disuruh mengisi kolom pertanyaan dengan “no” begitu tiba dari Singapura,” kata seorang penumpang yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Ahad (9/2), kepada Republika. Ia juga menuturkan tak ada prosedur pemeriksaan kesehatan yang ketat seperti yang dialami di Bandara Changi, Singapura.

Perwakilan WHO di Indonesia, Navaratnasamy Paranietharan, yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, mengatakan, Indonesia telah mengambil langkah konkret untuk mencegah wabah virus korona. Di antaranya penyaringan di perbatasan internasional dan menyiapkan rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani kasus-kasus potensial.

Namun, ia menggarisbawahi, masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan Indonesia di bidang pengawasan dan deteksi kasus aktif. Persiapan fasilitas kesehatan yang ditunjuk sepenuhnya dengan pencegahan infeksi yang memadai dan langkah-langkah pengendalian untuk dapat mengatasi beban pasien yang berat dari dugaan atau konfirmasi kasus jika terjadi wabah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Rustam, mengungkapkan, Pemerintah Singapura memberikan notifikasi suspect infeksi virus korona tipe baru terhadap enam warga negara Indonesia yang tiba di Tanjungpinang dari Singapura beberapa waktu lalu. Namun, dalam notifikasi tersebut tidak dijelaskan bentuk kontak WNI itu dengan virus korona hingga disebut suspect.

"Apakah bertemu dengan pasien positif virus korona, makan di tempat yang sama, atau berada di tempat umum yang sama? Silakan langsung tanya ke Pemerintah Singapura," ujar kata Rustam di kantor Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Senin.

Rustam menyebut pemberitahuan itu diterima oleh Kementerian Kesehatan RI, kemudian diteruskan ke Dinas Kesehatan Tanjungpinang pada 7 Februari 2020. Keenam WNI tersebut pulang dari Singapura ke Tanjungpinang melalui Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura (SBP), Tanjungpinang, pada 30 Januari 2020.

"Saat melintasi thermal scanner pelabuhan Internasional SBP Tanjungpinang kala itu, mereka tak terdeteksi memiliki gejala virus korona, seperti demam, batuk, dan sesak napas," kata Rustam.

Menindaklanjuti notifikasi tersebut, menurut Rustam, tim gabungan yang terdiri atas unsur Dinas Kesehatan Kepri, kantor kesehatan pelabuhan (KKP), serta Biddokkes Polda Kepri turun bersama dan menelusuri nama-nama yang tercantum dalam notifikasi untuk melakukan investigasi dan observasi pada Ahad (9/2). Dia mengungkapkan, keenam warga yang belakangan diketahui satu keluarga itu tengah diobservasi dan diawasi secara ketat oleh Dinkes dan pihak terkait.

Observasi dilaksanakan di kediaman mereka di Perumahan Pondok Gurindam, Kilometer 7, Tanjungpinang. Masa observasi terhitung sejak 30 Januari hingga 13 Februari 2020. "Total ada tujuh orang yang diobservasi dalam rumah tersebut. Lima orang dewasa dan dua orang balita. Satu dari dua balita itu sebenarnya tak ikut ke Singapura, tetapi karena semua tinggal serumah, akhirnya ikut diobservasi," tutur Rustam.

Selama diobservasi, menurut dia, keenamnya juga dibatasi melakukan kontak langsung dengan orang lain. Ia mengatakan, Dinas Kesehatan bersama pihak terkait lainnya di daerah itu turut melakukan pengawasan serta pemantauan terhadap tiap-tiap individu tersebut.

"Kami rutin memantau suhu tubuh serta ada tidaknya gejala batuk maupun sesak napas yang dialami masing-masing yang bersangkutan," kata dia. Rustam menegaskan, beberapa di antara mereka sudah menjalani pengambilan sampel usap tenggorokan untuk memastikan terpapar virus korona atau tidak. n kamran dikarma/reuters/antara ed: fitriyan zamzami

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA