Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Penjelasan Yudian Wahyudi Soal Agama Musuh Pancasila

Rabu 12 Feb 2020 19:42 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Teguh Firmansyah

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi (kiri) dan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh (kanan) bersiap dilantik di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi (kiri) dan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh (kanan) bersiap dilantik di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Kepala BPIP Yudian menilai pernyataannya dikutip tidak dengan utuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi tengah menjadi sorotan publik terkait pernyataannya soal agama adalah musuh terbesar Pancasila.

Baca Juga

Yudian pun mengklarifikasi soal pernyataannya tersebut. Menurut Yudian penjelasannya yang dimaksud adalah bukan agama secara keseluruhan, tapi mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila.  Karena, menurutnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu religius atau agamis.

"Karena kelima sila itu dapat ditemukan dengan mudah di dalam kitab suci keenam agama yang telah diakui secara konstitusional oleh negara Republik Indonesia," tegas Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (12/2).

Maka dengan demikian, menurut Yudian, Pancasila adalah penopang. Untuk mewujudkannya dibutuhkan kesetiaan atau bahasa lainnya sekuler, tapi bukan sekularisme. Kemudian membutuhkan ruang waktu, pelaku, anggaran dan juga perencanaan.

"Kasih contoh kita mau mewujudkan persatuan Indonesia, maka kita cari siapa panitianya kapan tempatnya, anggarannya seperti apa, acaranya apa itu namanya urusan manusia dan manusia di sini berarti manusia Indonesia," terang Yudian.

Hanya saja, dalam hubungan ini kerap terjadi ketegangan-ketegangan. Ada kelompok-kelompok minoritas yang mengaku mayoritas dan mereka membenturkan. Maka hal ini yang dimaksud Yudian, sebagai 'agama musuh Pancasila'.

"Kalau tidak pandai mengelola ini perilaku agama-agama ini akan menjadi musuh terbesar. Mengapa? karena setiap orang beragama, maka agama siapa kalau dibaca kan ketemunya Islam, Islam siapa begitu, itu yang saya maksud," tutur Yudian.

Sehingga, Yudian berpendapat, hubungan Pancasila dengan agama itu harus dikelola dengan baik. Adapun pihak yang harus menahan diri, dan yang harus mewujudkan diri yaitu mayoritas.

"Jadi saya ingin menekankan bahwa Pancasila itu bukan thogut, Pancasila kalau bahasa kita itu Islami. Karena itu semua ada di dalam Alquran dan juga Hadits ada. Yang saya maksud adalah musuh-musuh agama dari dalam agama," ungkapnya.

Lebih lanjut, Yudian menjelaskan, yang dia kritik adalah orang beragama menggunakan agama atas nama mayoritas tapi sebetulnya mereka minoritas.

Mereka membenturkan agama yang mereka klaim dengan Pancasila. Jika ini dibiarkan berarti agama akan menjadi musuh terbesar.  "Maka kita harus bisa mengelolah dengan baik hubungan agama dengan pancasila," ajak Yudian.

Selanjutnya Yudian juga mengkritik pemberitaan terkait dirinya soal agama musuh terbesar Pancasila. Menurut Yudian, berita tersebut tidak utuh, alias ada yang dipotong. Bahkan judulnya dibuat sembombastis mungkin.

Namun, jika videonya dikutip secara utuh, kata Yudian, masyarakat akan paham jika judul itu berita tersebut lepas dari konteks.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA