Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Kontroversi 'Agama Musuh Pancasila' dan Penjelasan Yudian

Kamis 13 Feb 2020 06:17 WIB

Red: Andri Saubani

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi (kiri) didampingi istri, menerima ucapan selamat dari Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri (kanan) seusai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi (kiri) didampingi istri, menerima ucapan selamat dari Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri (kanan) seusai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Kepala BPIP akhirnya memberikan penjelasan pernyataan 'agama musuh Pancasila'.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Wahyu Suryana, Karta Raharja Ucu, Fauziah Mursid, Ali Mansur

Baca Juga

Belum genap sepekan menjabat, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasilan (BPIP) Yudian Wahyudi membuat pernyataan kontroversional. Seperti dikutip dari salah satu pernyataannya kepada media daring nasional, Yudian mengatakan, musuh terbesar Pancasila adalah agama, bukan kesukuan. Pernyataan itu terkait dengan adanya kelompok-kelompok tertentu yang mereduksi agama sesuai dengan kepetingannya sendiri dan bertentangan dengan Pancasila.

Pernyataan Yudian yang kemudian viral itu menuai kritik dari berbagai kalangan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, misalnya, turut memberi tanggapan soal pernyataan Yudian Wahyudi. Haedar menilai, seorang pejabat harus cermat dalam berkat dan membuat pernyataan ke publik.

"Pertama kepada para pejabat, apalagi kalau pejabat baru, harus mau belajar, menjadi pejabat itu mengurus urusan publik yang luas, perlu seksama dalam berkata dan membuat pernyataan agar tidak keliru," kata Haedar, Rabu (12/2).

Kedua, secara subtansi, agama positif untuk Pancasila. Malah dalam Pancasila ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan itu diakui dalam UUD 45 Pasal 29. Bahkan, kata Haedar, Bung Karno mengatakan Indonesia dan negara Indonesia ber-Tuhan dan harus ber-Tuhan.

"Itu kata Bung Karno, kalau tidak percaya dibuka lagi," ujar Haedar.

Ketiga, salah pandang dapat terjadi pula terhadap Pancasila yang negatif terhadap agama. "Karena itu, perlu kita memperluas dan memperdalam horison kita dalam memandang agama dan Pancasila," kata Haedar.

Keempat, kalau agama yang hidup di NKRI dipertentangkan dengan Pancasila yang merupakan ideologi negara dan sebaliknya yang muncul tidak lain konflik. Di sini, ia menekankan, perlu kearifan.

"Jadi, jangan mempertentangan Pancasila dengan agama, dan sebaliknya jangan mempertentangkan agama dengan Pancasila," ujar Haedar.

Ia berpendapat, semua harus belajar arif, bijaksana, berwawasan luas, dan jangan bawa terus Indonesia dengan isu-isu yang kontroversial. Haedar menyarankan, lebih baik ajak rakyat Indonesia untuk produktif.

"Kemudian, ajak rakyat berpikir lebih cerdas, berilmu dan berkemajuan," kata Haedar.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta Yudian meluruskan pernyataannya. Sebab, menurut dia, pernyataan itu terkesan membenturkan agama dengan Pancasila.

“Pernyataan Kepala BPIP Pak Yudian Wahyudi tersebut, seperti yang dimuat salah satu media siber, Rabu (12/2), terkesan membenturkan agama dengan Pancasila. Kalau agama jadi musuh terbesar Pancasila, sama saja kelompok-kelompok radikal yang anti-Pancasila mendapat justifikasi,” kata Yaqut, Rabu (12/2).

Menurut Gus Yaqut, sapaan akrabnya, menjaga Pancasila itu adalah dalam rangka menegakkan agama yang penuh kasih sayang sekaligus adil bagi semua. Selain itu menjadi Muslim yang baik, yang menjadi rahmat bagi semesta, itu juga bagian dari meninggikan derajat Pancasila.

Pancasila yang selama ini diterima sebagai jalan kemaslahatan hidup berbangsa, menurut Gus Yaqut, mampu menengahi berbagai macam perbedaan. Jika kemudian agama dan Pancasila dibenturkan, katanya, maka Pancasila akhirnya dijadikan musuh bersama.

“Kelahiran dan disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara dan perekat berbagai macam perbedaan di Indonesia ini sudah melalui perjalanan panjang dan banyak pertimbangan. Rongrongan ideologi Islam transnasional terhadap Pancasila belakangan inilah yang makin nyata," ucap dia.

"Sebagai bangsa," kata Gus Yaqut melanjutkan, "kita sedang diuji untuk bisa bersama-sama merawat Pancasila sebagai satu-satunya asas. Saya yakin, Pacasila ini adalah kalimatun sawa’ alias titik temu antar suku, agama, etnis, ras, atau ragam identitas lainnya."

Sama seperti Gus Yaqut, Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga meminta Yudian Wahyudi mengklarifikasi pernyataannya kepada masyarakat. "Saya berharap beliau mengklarifikasi ucapannya itu," ujar Ma'ruf kepada wartawan di Kantor BKKBN, Halim, Jakarta Timur, Rabu (12/1).

Menurut Ma'ruf, klarifikasi harus dilakukan agar pernyataan Yudian yang baru dilantik sepekan itu tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Sebab, Ma'ruf tidak menginginkan terjadi kegaduhan di masyarakat akibat pernyataan Yudian tersebut.

"Saya kira itu kita mengharapkan beliau bisa mengklarifikasi supaya tidak timbul kontroversi dan terjadi salah paham, sehingga menimbulkan kegaduhan," ujar Ma'ruf.

[video] Sila Kelima Pancasila Dinilai Masih Jauh dari Harapan



Penjelasan Yudian

Kepada Republika, Rabu (12/2), Kepala BPIP Yudian Wahyudi memberikan klarifikasinya soal pernyataannya tersebut. Menurut Yudian, penjelasannya yang dimaksud adalah bukan agama secara keseluruhan, tapi mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila. Karena, menurutnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu religius atau agamis.

"Karena kelima sila itu dapat ditemukan dengan mudah di dalam kitab suci keenam agama yang telah diakui secara konstitusional oleh negara Republik Indonesia," tegas Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu, Rabu (12/2).

Maka dengan demikian, menurut Yudian, Pancasila adalah penopang. Untuk mewujudkannya dibutuhkan kesetiaan atau bahasa lainnya sekuler, tapi bukan sekularisme. Kemudian membutuhkan ruang waktu, pelaku, anggaran dan juga perencanaan.

"Kasih contoh kita mau mewujudkan persatuan Indonesia, maka kita cari siapa panitianya kapan tempatnya, anggarannya seperti apa, acaranya apa itu namanya urusan manusia dan manusia di sini berarti manusia Indonesia," terang Yudian.

Hanya saja, dalam hubungan ini kerap terjadi ketegangan-ketegangan. Ada kelompok-kelompok minoritas yang mengaku mayoritas dan mereka membenturkan. Maka hal ini yang dimaksud Yudian, sebagai 'agama musuh Pancasila'.

"Kalau tidak pandai mengelola ini perilaku agama-agama ini akan menjadi musuh terbesar. Mengapa? karena setiap orang beragama, maka agama siapa kalau dibaca kan ketemunya Islam, Islam siapa begitu, itu yang saya maksud," tutur Yudian.

Sehingga, Yudian berpendapat, hubungan Pancasila dengan agama itu harus dikelola dengan baik. Adapun pihak yang harus menahan diri, dan yang harus mewujudkan diri yaitu mayoritas.

"Jadi saya ingin menekankan bahwa Pancasila itu bukan thogut, Pancasila kalau bahasa kita itu Islami. Karena itu semua ada di dalam Alquran dan juga Hadits ada. Yang saya maksud adalah musuh-musuh agama dari dalam agama," ungkapnya.

Lebih lanjut, Yudian menjelaskan, yang dia kritik adalah orang beragama menggunakan agama atas nama mayoritas tapi sebetulnya mereka minoritas. Mereka membenturkan agama yang mereka klaim dengan Pancasila. Jika ini dibiarkan berarti agama akan menjadi musuh terbesar. 

"Maka kita harus bisa mengelolah dengan baik hubungan agama dengan Pancasila," ajak Yudian.

Selanjutnya Yudian juga mengkritik pemberitaan terkait dirinya soal agama musuh terbesar Pancasila. Menurut Yudian, berita tersebut tidak utuh, alias ada pernyataannya yang dipotong. Bahkan, ia menilai, judulnya dibuat sembombastis mungkin. Namun, jika videonya dikutip secara utuh, kata Yudian, masyarakat akan paham jika judul itu berita tersebut lepas dari konteks.

photo
Polemik Gaji BPIP


 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA