Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Virus Corona dan Kerugian 38 Triliun di Sektor Wisata

Kamis 13 Feb 2020 06:27 WIB

Red: Indira Rezkisari

Wisatawan menggunakan krim pelindung kulit untuk mengurangi dampak sengatan sinar matahari saat berselancar di Pantai Kuta, Badung, Bali. Virus corona membuat sektor pariwisata di Tanah Air merasakan imbasnya.

Wisatawan menggunakan krim pelindung kulit untuk mengurangi dampak sengatan sinar matahari saat berselancar di Pantai Kuta, Badung, Bali. Virus corona membuat sektor pariwisata di Tanah Air merasakan imbasnya.

Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Gejolak virus corona yang belum juga reda membuat sektor wisata lesu.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rahayu Subekti, Adinda Pryanka, Antara

Efek virus corona sudah mulai dirasakan negara-negara yang mendulang devisa dari sektor pariwisata. Wisatawan China di hampir seluruh dunia selama ini telah menyumbang pendapatan bagi negara yang pariwisata menjadi salah satu sektor andalannya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyebutkan potensi kerugian di sektor pariwisata Indonesia akibat serangan virus corona. Nilainya mencapai 2,8 milliar dolar AS atau Rp 38,2 triliun.

“Karena ini kan masih bergerak, kita bisa tahu ruginya berapa kalau corona sudah berhenti kalau kita average (rata-rata) setahun dari China saja dengan dua juta jumlah wisatawan kan sudah 2,8 miliar dolar AS kerugian misalnya,” kata Wishnutama usai rapat koordinasi dengan Menhub dan operator penerbangan di Kemenpar, Jakarta, Rabu (12/2).

Angka tersebut, lanjut dia, jika dihitung dari kunjungan jumlah wisatawan China ke Indonesia selama satu tahun di mana rata-rata mencapai dua juta wisatawan mancanegara. “Jadi, memang ini mengukurnya tidak sesederhana kalau sudah semua selesai, tapi yang kita tahu China wisatawannya dua juta. Artinya kalau terjemahkan ke devisa 2,8 miliar dolar AS, tinggal hitung saja nanti berapa lama masa virus berkembang,” katanya.

Potensi kerugian tersebut, Wishnutama menjelaskan, karena pada masa-masa Februari hingga Maret biasanya para wisatawan tengah memesan pesawat ataupun hotel (booking period) persiapan liburan musim panas. “Kalau Februari sampai Maret ini kan booking period. Sekarang wisatawan sedang pesan transportasi dan hotel untuk liburan musim panas. Ini juga akan punya dampak, kalau misalnya virus corona ini April selesai, itu imbasnya ke liburan musim panas," katanya.

Namun, lanjut dia, angka pasti kerugian bisa dihitung setelah dampak dari virus corona selesai. Tetapi setelah itu juga masih terdampak efek sampingnya.

“Belum lagi dampak lainnya atau dampak setelah virus ini selesai dan juga ada tren menurun juga keinginan orang untuk berwisata,” katanya.

Bendara-bandara yang menjadi hub internasional, seperti Singapura dan Hong Kong juga menjadi sepi. “Dan hub-hub Singapura dan Hong Kong meskipun tidak dari China ada kecenderungan sepi sekarang. Itu juga punya dampak,” katanya.

Baca Juga



Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, kontribusi kunjungan wisatawan mancanegara China termasuk tertinggi. Yakni dua juta wisman dengan total belanja 14.000 dolar AS per kunjungan atau Rp 192 juta.

Sementara itu, target perolehan devisa dari sektor pariwisata direncanakan mencapai 21 miliar dolar AS pada 2020 atau lebih besar 1 miliar dolar AS dari realisasi 2019 sebesar 20 miliar dolar AS atau Rp 275 triliun.

Di Bali, perlambatan sektor pariwisata sudah terlihat. Wishnutama menuturkan okupansi hotel di Bali sudah terdampak corona.

“Kalau info perhotelan di Bali sudah ada. Rata-rata saja trennya menurun, booking turun juga kelihatan dari booking online ketahuan infonya,” kata Wishnutama.

Wishnutama menuturkan hub penerbangan selain dari China dan Singapura juga cenderung sepi karena virus corona. Kejadian tersebut memicu wisatawan mancanegara mengurunkan niatnya berwisata.

Penghitungan target wisatawan mancanegara akan berubah. “Ini karena ada virus corona, segala sesuatu jadi berbeda tidak normal lagi keadaannya. Jadi kita menghitungnya harus betul-betul lebih kompleks,” ungkap Wishnutama.

Dia namun belum bisa mengungkapkan hitungan pasti berapa penurunan wisatawan mancanegara sebab virus corona masih bergejolak. Wishnutama pun belum mengetahui apakah akan ada koreksi target wisatawan mancanegara pada 2020 karena dampak virus corona.

Untuk mendorong pariwisata, Pemerintah berupaya memberikan insentif bagi maskapai akibat ditutupnya penerbangan dari dan ke China. “Kita ingin berikan ruang untuk memberikan semacam insentif,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.



Budi memastikan pembahasan insentif untuk maskapai sudah didiskusikan juga dengan Kementerian Keuangan. Meskipun begitu, Budi menegaskan saat ini pemerintah belum memutuskan insentif tersebut akan diberikan dalam bentuk apa.

Selain penerbangan yang lebih terjangkau, hingga merangsang minat wisatawan lokal, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) berharap, pemerintah pusat mendorong kegiatan rapat di daerah-daerah. Khususnya di kota yang terkena dampak penurunan jumlah wisatawan akibat penyebaran virus corona.

Wakil Ketua Umum PHRI Maulana Yusran menyebutkan, setidaknya ada empat kota yang terdampak. Mereka adalah Manado, Batam, Bali dan DKI Jakarta yang merupakan pusat perjalanan bisnis, termasuk untuk skala internasional. "Kawan-kawan dari sektor industri pun sudah berbicara, ada imbas ke sana," ujarnya.

Maulana menuturkan, inisiasi tersebut tidak hanya terlontar dari PHRI sebagai bagian dari industri pariwisata. Pemerintah seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pun sempat menyampaikan rencana serupa yang kemudian disambut baik oleh industri.

Selanjutnya, Maulana menambahkan, pemerintah pusat juga perlu mempertimbangkan untuk memperluas jangkauan daerah rapat. Sebab, selama ini, pemerintah pusat cenderung terfokus pada satu hingga dua daerah saja untuk dijadikan tempat rapat.

Penyebaran itu terutama akan berdampak positif kepada perekonomian daerah. "Pemerintah pusat harus terus bergerak (ke daerah). Jangan hanya (pemerintah) daerah yang suruh ke luar (pusat kota, ibu kota negara)," tutur Maulana.

Hanya saja, Maulana menekankan, bukan berarti industri berharap agar pemerintah mengada-adakan rapat di daerah. Sebab, hal tersebut sama saja dengan meningkatkan belanja pemerintah pusat secara percuma.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono menyebutkan, pihaknya berkomitmen untuk mendorong kementerian dan lembaga melaksanakan rapat-rapat bisnis di daerah.

photo
Infografis Virus Corona.




BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA