Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Pakar Tepis Suami BCL Meninggal karena Terapi Emsculpt

Selasa 18 Feb 2020 15:16 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Ashraf Sinclair

Ashraf Sinclair

Foto: Antara
Terapi EMS tak memiliki kaitan dengan gangguan jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar dari PPDS Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Andhika Raspati mengatakan, metode emsculpt yang dilakukan Ashraf Sinclair tidak ada hubungannya dengan penyakit jantung yang menjadi penyebab kematian sang aktor.

Dokter KONI DKI Jaya itu menjelaskan bahwa metode emsculpt adalah produk yang menggunakan stimulasi otot menggunakan listrik atau electric muscle stimulation (EMS)

"Kalau kita lihat dalam kasus kematian Ashraf yang dikaitkan dengan EMS, itu bukan dari EMS karena EMS yang berlebihan tak ada hubungannya secara langsung dengan gangguan jantung yang bisa menyebabkan kematian," kata dr Andhika, Selasa.

"Sesuai namanya, EMS adalah metode di mana otot diberi rangsangan listrik dari luar sehingga bisa berkontraksi."

Layaknya gerakan biasa, metode EMS adalah memberikan rangsangan listrik layaknya rangsangan otak pada otot untuk diterjemahkan dalam bentuk kontraksi.
"Nah ini bedanya dengan gerakan biasa, EMS menggunakan listrik dari luar."

Ashraf diketahui pernah mengunggah video saat sedang melakukan terapi Emscult di laman Instagramnya empat hari sebelum meninggal. Salah satu tujuan terapi ini adalah untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal tanpa operasi.

Bahaya EMS

Metode EMS berbahaya jika dilakukan dengan dosis yang besar. Jika rangsangan listrik yang diberikan terhadap otot terlalu banyak maka akan menyebabkan kerusakan jaringan atau sel otot.

"Hal itu dapat menimbulkan nyeri pada otot yang berkontraksi. Bila kerusakan berlangsung ekstensif atau luas maka akan menimbulkan kerusakan yang lebih berat sehingga dapat juga mempengaruhi fungsi ginjal," kata dia.

Jika EMS diberikan berlebihan maka akan terjadi abdominalisis yakni kondisi di mana sel jaringan otot pecah sehingga masuk ke dalam pembuluh darah yang akhirnya harus disaring melalui ginjal yang menyebabkan terganggunya kinerja ginjal.

"Meski demikian saya tidak tahu protokolernya seperti apa untuk bisa dikatakan (seperti klaim) 20.000 sit up dalam 30 menit, kalau kita bicara EMS kan ada frekuensi dan intensitasnya," kata dr Andhika.

Cara dapatkan tubuh ideal

Meski saat ini banyak klinik yang menawarkan layanan EMS, namun dr Andhika sangat tidak menyarankan metode tersebut dilakukan tanpa latihan fisik lain.

"Saya secara pribadi tak pernah menganjurkan pada pasien untuk melakukan EMS saja tanpa latihan yang lain meski EMS ini merangsang kontraksi otot tapi enggak bisa disamakan dengan latihan konvensional," katanya.

Latihan fisik, menurut dr Andhika, sebenarnya juga melatih otak.
"Otak juga dilatih bagaimana mengkoordinasikan gerak, bagaimana mengatur keseimbangan tubuh, bagaimana mengatur kontraksi otot tertentu. Itu sebuah efek latihan yang diharapkan juga," kata dia.

Apalagi jika latihan yang diinginkan adalah latihan kardio yang harus meningkatkan detak nadi.

Jika ingin mendapatkan tubuh ideal, harus melakukan aktivitas fisik dibarengi dengan mengatur pola makan dengan baik.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA