Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Virus Corona Mungkin Menyebar Lebih Cepat dari Prediksi WHO

Rabu 19 Feb 2020 14:56 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi penyebaran virus corona tipe baru. Laju penularan virus Covid-19 bisa jadi lebih cepat daripada perkiraan WHO.

Ilustrasi penyebaran virus corona tipe baru. Laju penularan virus Covid-19 bisa jadi lebih cepat daripada perkiraan WHO.

Foto: MgIT03
Laju penularan virus corona tipe baru, Covid-19, setidaknya sama dengan virus SARS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian terbaru yang mengkaji bilangan reproduksi dasar (R0) virus corona tipe baru menunjukkan laju penularannya lebih besar daripada yang diperkirakan. Sejak virus itu pertama kali ditemukan pada Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, China, para ilmuwan telah berusaha mempelajari segala sesuatunya, mulai dari asal virus, bagaimana dapat menyebar ke manusia, hingga berapa lama virus dapat bertahan di permukaan barang.

Pertanyaaan-pertanyaan tersebut hingga kini belum dapat dijawab secara pasti oleh para peneliti. Namun, tinjauan terhadap studi yang masih dilakukan, mencoba menjawab pertanyaan lain, yang tak kalah penting untuk mengendalikan epidemi corona, yakni seberapa cepat virus menyebar?

Otoritas kesehatan China melaporkan, jumlah total korban meninggal akibat virus bernama resmi Covid-19 telah mencapai 2.000 orang pada Rabu (19/2). Angka ini bertambah dengan laporan adanya 132 kematian baru di Provinsi Hubei, setelah sehari sebelumnya pada Selasa (18/2) jumlah kematian di negara itu adalah 1.868 kasus.

Untuk mengetahui laju penyebaran Covid-19, tim peneliti memeriksa beberapa studi ilmiah mengenai virus tersebut dan hasilnya diterbitkan dalam Journal of Travel Medicine. Penulis analisis akhir adalah Joacim Rocklov, profesor di bidang Sustainable Health di Umeå University di Swedia.

Seperti yang dijelaskan oleh Rocklov dan tim dalam makalahnya, R0 dasar menjelaskan jumlah rata-rata infeksi baru yang dapat ditimbulkan oleh orang yang terinfeksi dalam populasi yang sebelumnya tidak terpapar virus. R0 yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa jumlah orang yang terinfeksi cenderung bertumbuh, sedangkan R0 kurang dari satu menunjukkan bahwa virus mungkin akan mati.

"Bilangan reproduksi dasar adalah konsep sentral dalam epidemiologi penyakit menular, yang menunjukkan risiko agen infeksi terhadap penyebaran epidemi," tulis para penulis makalah ini, dilansir Medical News Today, Rabu (19/2).

Untuk sampai pada kesimpulan, para peneliti mengakses beberapa studi yang memenuhi syarat yang berhubungan dengan R0 dasar dari database PubMed, bioRxiv, dan Google Scholar. Studi dilakukan antara 1 Januari dan 7 Februari. Rocklöv dan tim menetapkan jumlah 12 studi yang kualitasnya cukup tinggi untuk dimasukkan dalam analisis.

Studi yang dipilih memperkirakan R0 dasar untuk Covid-19 di China dan beberapa negara lainnya yang terpapar. Estimasi ini berkisar antara 1,4 hingga 6,49 dan memiliki rata-rata 3,28 dan median 2,79. Kedua angka ini secara signifikan lebih tinggi daripada angka yang diperkirakan WHO, yaitu 1,4-2,5.

Para penulis menjelaskan bahwa studi awal melaporkan nilai R0 yang lebih rendah, kemudian kembali ke perkiraan awal. Metode estimasi yang digunakan studi berperan dalam perbedaan ini.

“Studi yang menggunakan metode stokastik dan statistik dalam memperoleh R0 yang memberikan perkiraan yang cukup sebanding. Namun, studi yang menggunakan metode matematika menghasilkan estimasi yang rata-rata lebih tinggi,” tulis tim peneliti.

Peneliti menunjukkan bahwa virus corona jenis baru setidaknya sama menularnya dengan virus SARS (sindrom pernapasan akut parah). Kesimpulan tersebut melambangkan seserius itulah situasinya.

Ketika melihat perkembangan epidemi corona, menurut Rocklöv, tampaknya itu sesuai dengan atau bahkan melebihi pertumbuhan epidemi tertinggi dalam perhitungan timnya. "Terlepas dari semua kegiatan intervensi dan kontrol, virus corona telah menyebar ke tingkat yang secara signifikan lebih tinggi daripada SARS,” jelas Rocklöv.

Dalam makalah studi, para ilmuwan mengakui, karena serangan virus yang singkat dan data yang tidak mencukupi, perkiraan saat ini untuk R0 dasar bisa jadi ada bias. Namun, karena semakin banyak data yang terakumulasi, kesalahan estimasi dapat diperkirakan menurun dan gambaran yang lebih jelas akan terbentuk.

"Berdasarkan pertimbangan ini, R0 untuk Covid-19 diperkirakan sekitar dua sampai tiga yang secara umum konsisten dengan perkiraan WHO,” tulis peneliti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA