Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

WNI Eks Wuhan Khawatir Masyarakat Menolak Kehadiran Mereka

Selasa 18 Feb 2020 06:03 WIB

Red: Andri Saubani

Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah menjalani observasi Corona di Natuna bersiap melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing saat tiba di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (15/2). (ilustrasi)

Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah menjalani observasi Corona di Natuna bersiap melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing saat tiba di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (15/2). (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
WNI eks Wuhan dalam kondisi sehat dan tidak membawa virus Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, Hilyatu Millati Rusdiyah, menjadi salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) eks Wuhan yang telah rampung menjalani masa karantina di Natuna dan telah kembali ke kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah. Ia mengakusecara psikologis sempat terganggu setelah merebaknya Covid-19 (virus corona) di tempat dia menimba ilmu di Negara China, tepatnya di Kota Wuhan.

Wanita asal Desa Kemalang, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang biasa disapa Milla itu tidak menyangka perjalanannya untuk mencari ilmu di Negeri Tirai Bambu tersebut tidak mudah akibat merebaknya Covid-19. Apalagi, sepulang dari Wuhan, dia dan ratusan WNI lain harus diobservasi terlebih dahulu di Natuna.

Saat itu, yang membuatnya makin berat adalah sempat terjadi penolakan dari masyarakat setempat karena ketakutan mereka akan tertular virus tersebut. Meski demikian, istri dari Ahmad Syaifuddin Zuhri bersyukur karena pada akhirnya masyarakat menerima mereka dengan lapang dada.

"Ini menghapus stigma bahwa yang datang dari Wuhan membawa virus Corona," katanya.

Milla mengaku gelisah saat masih berada di Wuhan dan belum bisa dipulangkan ke Indonesia. Karena ternyata penyebaran virus tersebut terjadi cukup cepat, yaitu dari pasien yang berjumlah ribuan hingga menjadi puluhan ribu dalam waktu singkat.

"Virus ini juga bisa menyebar lewat udara. Kami tidak tahu kapan bisa terkena. Pemerintah Tiongkok mengimbau kepada semua warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, sampai akhirnya Pemerintah (Republik Indonesia) memutuskan melakukan evakuasi," katanya.

Mengenai merebaknya virus tersebut, awalnya tidak terlalu dikhawatirkan oleh masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pendatang seperti dirinya. Bahkan, pada awalnya atau tepatnya saat mereka masih berada di Wuhan, kondisi kota belum seramai saat ini.

"Karena saat itu belum dikonfirmasi bahwa virus itu bisa menular lewat udara dan antar manusia. Setelah tahu kalau mulai virus itu bisa menular antar manusia dan Pemerintah setempat memutuskan mengisolasi (lockdown) kota itu, kondisi mulai sepi. Apalagi saat itu juga kondisi Imlek dan musim dingin," katanya.

Milla mengatakan, pada awal virus tersebut ditemukan, yaitu virus Corona jenis baru, belum dikonfirmasi bahwa penularannya bisa terjadi antarmanusia. Menurut dia, yang diketahui masyarakat adalah penularan hanya bisa terjadi dari hewan ke manusia.

"Kemudian tepatnya pada tanggal 20 Januari, ilmuwan mulai mengkonfirmasi bahwa penularan bisa terjadi antar manusia, kekhawatiran dari kami pasti ada," katanya.

photo
Nurul Fadhatussiyah (kiri) salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, China disambut keluarganya saat tiba di Bandara Internasional Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Ahad (15/2/2020) dini hari.

Apalagi pada saat itu jumlah korban naik secara signifikan dan masing-masing orang tidak tahu siapa saja yang sudah terkena virus tersebut maupun yang belum. "Andaikan tidak terkonfirmasi menyebarantar manusia mungkin tidak sekhawatir saat ini," katanya.

Setelah merebaknya virus tersebut, dan akhirnya dievakuasi pulang ke Tanah Air oleh Pemerintah Indonesia, bagi Milla, bukan hal yang mudah baginya maupun WNI eks Wuhan yang lain menjalani masa observasi. Salah satu yang memberikan beban psikologis tersendiri adalah kerinduan terhadap keluarga.

"Yang dirindukan adalah keluarga. Otomatis, kan terpisah makin lama," katanya.

Meski demikian, selama di lokasi observasi, pemerintah berupaya memberikan kenyamanan kepada para WNI. "Kami olah raga setiap pagi, makan bersama tiga kali sehari. Selain itu, ada juga aktivitas individu seperti karaoke dan games. Kami juga menjalani pemeriksaan kesehatan sehari dua kali, termasuk pemeriksaan suhu tubuh," katanya.

Baca Juga

Kini, Milla mengaku khawatir akan adanya penolakan masyarakat sekitar karena ketakutan akan terjangkit Covid-19. Padahal, Kementerian Kesehatan sudah menerbitkan sertifikat atau surat sehat untuk WNI yang telah menjalani masa observasi di Natuna.

"Yang pasti sampai saat ini kondisi kami sehat setelah diobservasi. Tidak ada yang kena (terjangkit Covid-19)," katanya.

"Jadi saya mohon masyarakat sekitar tidak perlu takut kepada kami dan juga mengkhawatirkan kedatangan kami karena kondisi kami sehat-sehat saja," katanya, menambahkan.

Camat Tulung Suyamto memastikan akan memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak perlu khawatir akan terjangkit virus tersebut. Ia mengaku belum mengetahui apakah ada masyarakat yang merasa takut atau tidak atas kepulangan Milla.

"Apalagi sepulang pemeriksaan kesehatan (Milla) dinyatakan sehat. Harapan saya untuk masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya mbak Milla pulang," katanya.

photo
Virus Corona, Antara Mitos dan Fakta

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA