Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Terima Kasih, PPI Wuhan dan Tiongkok Disarankan Membuat Buku

Rabu 19 Feb 2020 22:18 WIB

Red: Hiru Muhammad

Mahasiswi asal Sulawesi Tenggara yang kuliah di Wuhan (dari kiri) Klarasani Nurrahmi Safitri, Nia Daniati Rusli dan Fitri Indah Dewi Mahasiswa tiba di Bandara Haluoleo Kendari usai melewati masa karantina dan observasi Coronavirus Disease (COVID-19) selama 14 hari di Natuna, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (18/2/2020).

Mahasiswi asal Sulawesi Tenggara yang kuliah di Wuhan (dari kiri) Klarasani Nurrahmi Safitri, Nia Daniati Rusli dan Fitri Indah Dewi Mahasiswa tiba di Bandara Haluoleo Kendari usai melewati masa karantina dan observasi Coronavirus Disease (COVID-19) selama 14 hari di Natuna, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (18/2/2020).

Foto: Antara/Jojon
Buku tersebut berisi kumpulan cerita mereka selama di Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wuhan dan PPI Tiongkok menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang telah bekerja keras memulangkan mereka ke Tanah Air. 

Ucapan terima kasih itu antara lain ditujukan kepada  KBRI Tiongkok, Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Kesehatan RI, anggota DPR RI dan MPR RI, TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Natuna, serta pemerintah daerah asal masing-masing mahasiswa atas bantuan yang diberikan sehingga mereka bisa kembali ke Tanah Air dengan sehat dan selamat.

Para mahasiswa menyatakan hal itu ketika berkunjung ke ruang kerja Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI  bidang penyerapan aspirasi masyarakat. Lestari  didampingi Muhammad Farhan, anggota Komisi I dari Fraksi NasDem yang menyambut kedatangan para mahasiswa dan sejumlah orang tuanya dengan hangat.

Selain bertukar cerita tentang ketegangan yang dialami di Tiongkok dan keceriaan saat karantina di Natuna, pada kesempatan itu para mahasiswa juga menegaskan mereka saat ini benar-benar sehat, setelah menjalani karantina selama 2 minggu di Natuna. "Sejauh ini masyarakat di lingkungan kami menerima kami dengan baik. Demikian juga dengan aparat Pemda," ujar Fani, mahasiswa semester 1 Universita Wuhan.

Selain berterima kasih para mahasiswa juga memberi sejumlah masukan. Antara lain mengungkapkan ada yang bisa keluar dari Tiongkok dan masuk ke Indonesia tanpa pemeriksaan yang ketat.

Itu terjadi pada saat  sejumlah bandara di Tiongkok belum di lock down. "Mereka tidak langsung ke Indonesia. Mereka ke negara lain yang longgar pengawasannya, baru terbang ke Indonesia. Mereka bisa tidak melalui pemeriksaan yang ketat," jelas Riza, salah satu mahasiswa Universitas Wuhan. 

Dia berharap petugas di bandara bisa lebih ketat lagi dalam meneliti riwayat perjalanan para penumpang pesawat, untuk membatasi kemungkinan penyebaran Covid-19 antarnegara.

Setelah mendengar berbagai cerita, Mbak Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, yang juga legislator Partai NasDem itu mengusulkan agar cerita para mahasiswa itu dibukukan. Sehingga pengalaman yang jarang ini bisa dibagikan ke masyarakat luas agar lebih mewaspadai dampak Covid-19.

Menanggapi usulan Mbak Rerie, mahasiswa yang tergabung dalam PPI Tiongkok dan Wuhan itu setuju untuk mulai menulis kisahnya masing-masing untuk kemudian dibuat buku.

Anggota Komisi I Fraksi NasDem, Muhammad Farhan mengungkapkan  keberhasilan proses pemulangan mahasiswa tersebut merupakan buah dari kerjasama yang solid antara Kementerian Luar Negeri, anggota Legislatif, aparat keamanan dan swasta yang memperlancar proses pemulangan mereka. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler