Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Sentilan Erick Thohir dan Respons Telkom

Kamis 20 Feb 2020 19:37 WIB

Red: Andri Saubani

Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Erick Thohir menyindir Telkom yang mengandalkan keuntungan dari Telkomsel.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Muhammad Nursyamsi, Antara

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir belakangan menyoroti bisnis PT Telkom Indonesia. Pada era disrupsi bisnis seperti sekarang, ia meminta Telkom berinvoasi lewat pengembangan teknologi.

"Karena itu kemarin saya bicara bukan diskreditkan Telkom atau BUMN lain, tapi saya memacu untuk inovasi," ucap Erick, saat rapat Kementerian BUMN dengan Komisi VI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (20/2).

Baca Juga

Erick meminta sektor teknologi tak dilupakan dalam rencana pengembangan bisnis BUMN. Kondisi yang melatarbelakangi dirinya menyoroti kondisi PT Telekomunikasi Indonesia atau Telkom.

Erick berharap 'sentilan' dari dirinya membuat Telkom segera berbenah dalam mengembangkan bisnisnya. Terlebih, kata Erick, anggota Komisi VI DPR juga memberikan perhatian yang sama dengan memanggil direksi Telkom pada Rabu (19/2) kemarin.

"Ini suatu percepatan agar mereka (Telkom) metamorfosis dan mengubah bisnis dari cara lama menuju yang baru," kata Erick.

Erick ingin Telkom melakukan transformasi dengan menyesuaikan bisnis dengan perkembangan zaman. Erick menilai Telkom tak sepantasnya hanya menjadi penonton mengingat Telkom memiliki kekuatan jaringan dan database yang besar.

"Sayang sekali database ini atau jaringan ini diambil asing yang selalu bicarakan database ini adalah the new oil karena dengan data orang bisa prediksi kapan orang Indonesia mau beli baju merah," ucap Erick.

Pada Rabu (13/2), Erick menyinggung Telkom yang justru mengandalkan keuntungan dari anak usahanya yakni, Telkomsel. Menurut Erick, industri telekomunikasi sudah jauh berubah dengan tidak sekadar menjual layanan pesan suara, melainkan juga data. Erick menilai dengan infrastruktur yang dimiliki, Telkom seharusnya bisa mengembangkan bisnisnya lebih masif.

"Telkomsel deviden, pendapatan Telkomsel digabung ke Telkom hampir 70 persen. Mendingan enggak ada Telkom, ya langsung saja dimiliki Kementerian BUMN, devidennya jelas," ujar Erick di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (13/2) lalu.

Erick meminta Telkom melirik peluang bisnis baru, contohnya cloud computing.  Erick mengaku sempat terpaksa menggunakan layanan cloud dari Alibaba yakni Alicloud saat Asian Games 2018 lantaran tak ada BUMN yang mampu memenuhinya.

"Kita mau Telkom ke depan berubah ke arah database, big data, cloud, masak cloud dipegang Alicloude. Bigdata dan cloud bisa menjadi sebuah bisnis, jangan diambil lagi oleh asing," ungkap Erick.

Respons Telkom

Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk Ririek Adriansyah menanggapi kritik dan sentilan Erick terhadap perusahaan yang dipimpinnya. Ia menilai, Erick mengharapkan Telkom cepat bertransformasi.

“Beliau ingin Telkom bertransformasi ke depan. Kita sudah punya rencana itu, tapi beliau ingin lebih cepat lagi,” kata Ririek saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (19/2) malam.

Pernyataan tersebut disampaikan Ririek saat menjawab pertanyaan beberapa anggota Komisi VI terkait pernyataan Erick Thohir tersebut. Ririek menambahkan, Telkom juga berkomitmen untuk melalukan transformasi bisnis sekaligus berinovasi untuk mengembangkan bisnis di Indonesia.

Namun, pihak Telkom tidak merespons keinginan Erick agar Telkom memulai bisnis di sektor cloud computing. Fokus pengembangan bisnis Telkom saat ini adalah memodernisasi jaringan telekomunikasi dengan menggunakan teknologi 100 persen berbasis fiber optik di kota dan kabupaten seluruh Indonesia, sekaligus mempersiapkan layanan 5G.

Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin di Jakarta, Ahad (16/2) lalu, mengungkap program modernisasi yang dikenal dengan istilah Modern Broadband City. Modern Broadband City adalah komitmen Telkom untuk meningkatkan kualitas layanan Information & Communication Technology (ICT) bagi masyarakat serta mempercepat terwujudnya digitalisasi Indonesia.

“Pada era digital saat ini, tergelarnya infrastruktur 100 persen fiber optik itu diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan broadband berkualitas, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan digital yang jauh lebih baik," ujar Zulhelfi Abidin dalam keterangan resmi.

Adanya modernisasi jaringan ke fiber optik itu, lanjut dia, menjadi landasan penting dalam penyediaan layanan digital baik digital platform maupun services, yang dapat diakses melalui jaringan fixed broadband maupun seluler berkecepatan tinggi 3G/4G. Hal ini sekaligus menjadi langkah TelkomGroup dalam mempersiapkan hadirnya layanan 5G.

photo
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Ririek Adriansyah.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA