Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

China Adopsi Sistem QR Kendalikan Epidemi Corona

Jumat 21 Feb 2020 12:47 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas polisi mengoperasikan drone yang membawa QR code dekat pintu tol di Shenzen, Guangdong, China. Penggunaan QR code membantu polisi mendaftar kendaraan yang kembali ke Shenzen tanpa harus langsung kontak dengan pengemudi hingga meminimalisir penyebaran corona.

Petugas polisi mengoperasikan drone yang membawa QR code dekat pintu tol di Shenzen, Guangdong, China. Penggunaan QR code membantu polisi mendaftar kendaraan yang kembali ke Shenzen tanpa harus langsung kontak dengan pengemudi hingga meminimalisir penyebaran corona.

Foto: AP
Sistem QR China digunakan di 100 kota dengan di menempel aplikasi Alipay.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Puti Almas, Antara

Jumlah kematian akibat wabah virus corona jenis baru di China telah mencapai 2.118. Angka kematian akibat corona jauh melampaui SARS (sindrom pernapasan akut parah) yang terjadi di negara itu pada 2002 hingga 2003. Hingga Kamis (20/2), jumlah kasus Covid-19 yang dikonfirmasi adalah sebanyak 74.576.

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mengatakan kasus baru yang dikonfirmasi telah mengalami penurunan sebanyak 394. Ini adalah penurunan terbesar sejak Desember 2019, ketika kasus pertama virus corona jenis baru ditemukan di Wuhan, ibu Kota Provinsi Hubei.

NHC mengatakan pihaknya menerima laporan 114 kematian terbaru pada Rabu (19/2) dari 31 wilayah tingkat provinsi. Hingga saat ini ada 4.922 orang di daratan China yang masih dicurigai terinfeksi Covid-19.

Di antara kematian yang terjadi dilaporkan 108 berasal dari Provinsi Hubei, termasuk di antaranya terjadi di Hubei, Shanghai, Fujian, Shandong, Yunnan, dan Shaanxi. Di Wuhan yang menjadi titik pertama kasus virus corona jenis baru dilaporkan adanya 349 kasus baru dan 108 kematian.

Laporan terbaru membawa total kasus yang dikonfrimasi di Hubei menjadi 62.031. Meski demikian, di luar provinsi terbebut, jumlah kasus telah turun selama 16 hari berturut-turut, yang menunjukkan bahwa epidemi sebgain besar terbatas pada Hubei, secara khusus Wuhan.

Kantor berita Xinhua melaporkan sebanyak 45 kasus baru yang dikonfirmasi pada Rabu (19/2) di luar Hubei, turun dari angka 890 pada 3 Februari. Di Hubei juga terdapat penurunan jumlah kasus infeksi Covid-19.

Secara signifikan, NHC mengatakan jumlah harian pasien yang baru sembuh dan dipulangkan di China telah melampaui infeksi baru yang dikonfirmasi selama dua hari berturut-turut. Pada Rabu (19/2), sebanyak 1.779 orang diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah pemulihan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari jumlah infeksi baru yang dikonfirmasi pada hari yang sama, yang mencapai 394.

Secara total ada 16.155 pasien yang terinfeksi virus corona baru dinyatakan sembuh di daratan China. Sementara itu, di Hong Kong, kota administrasi khusus negara itu ada 65 kasus yang dikonfirmasi, serta ada dua kematian. Kemudian di Makau, 10 kasus infeksi dilaporkan.

Lebih dari 100 kota di Cina telah mengadopsi sistem kode QR untuk memfasilitasi kendali virus corona baru. Kode QR, yang diproduksi dengan aplikasi seluler Alipay, didasarkan pada pergerakan pengguna selama dua pekan sebelumnya dan memberi tahu apakah mereka telah mengunjungi area yang terpapar Covid-19.

Alih-alih mengisi formulir laporan kesehatan, warga sekarang dapat menunjukkan kode QR di pos pemeriksaan komunitas atau jalan bebas hambatan. Dengan demikian, pemeriksaan tanpa kontak dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan virus.

Menurut Ant Financial, semua kota di Provinsi Zhejiang, Sichuan dan Hainan telah mengadopsi kode QR kesehatan, dengan 15 juta orang terdaftar untuk kode QR di Zhejiang saja. Hangzhou, Ibu Kota Provinsi Zhejiang, mengadopsi kode QR sejak 11 Februari lalu.

Kode QR menunjukkan bagaimana internet digunakan dalam usaha China menanggulangi epidemi corona jenis baru. Ini memberikan dukungan kuat untuk pencegahan dan pengendalian wabah.  

Di luar China, beberapa negara juga melaporkan jumlah kematian akibat infeksi virus corona. Di antaranya adalah Taiwan dengan 10 kasus dikonfirmasi, serta satu kematian. Selanjutnya ada Prancis, Filipina dan Taiwan yang masing-masing telah mencatat masing-masing satu kematian, serta Iran dengan dua kematian dan Jepang memiliki tiga.

Jepang juga menjadi negara kedua yang memiliki kasus virus corona terbesar setelah China, dengan lebih dari 400 orang yang dilaporkan terinfeksi. Jumlah kasus Covid-19 di negara itu meningkat dengan temuan virus di kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama dan langsung dikarantina.

Pada awalnya, karantina dilakukan setelah kapal pesiar itu tiba di Yokohama pada 3 Februari lalu, saat diketahuinya seorang pria yang melakukan perjalanan dengan kapal tersebut turun di Hong Kong dan didiagnosis terkena virus tersebut. Sekitar 3.700 orang berada di atas kapal pesiar, dengan jumlah awak 1.100 dan kapasitas penumpang 2.670.

Baca Juga

photo
Seorang perawat mengecek kondisi pasien yang terjangkit virus corona.

Penyebaran Mirip Influenza
Para ilmuwan di China mengatakan penyebaran virus corona baru lebih mirip influenza daripada virus terkait lainnya. Sehingga virus yang telah menewaskan ribuan orang itu menyebar lebih mudah.

Para ilmuwan tersebut mempelajari kain penyeka hidung dan tenggorokan dari 18 pasien yang terinfeksi virus corona baru atau Covid-19. Setidaknya dalam satu kasus, virus corona tetap ada kendati pasien tidak memperlihatkan gejala tertular. Bahkan, pasien tanpa gejala itu dapat menyebarkan penyakit.

Hasil penyelidikan yang diterbitkan pada Rabu (19/2) di Jurnal Kesehatan New England memberikan bukti baru bahwa Covid-19, yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang itu, tidak terkait dengan virus serupa corona.

"Jika dikonfirmasi, ini sangat penting," kata Dr Gregory Poland, seorang ahli virologi dan peneliti vaksin dari Klinik Mayo di Rochester, Minnesota, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Tidak seperti SARS, yang menyebabkan infeksi jauh di saluran pernapasan bagian bawah hingga dapat menyebabkan pneumonia, Covid-19 tampaknya menghuni saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Keadaan itu akan membuat virus tidak hanya mampu menyebabkan pneumonia berat, tetapi menyebar dengan mudah seperti flu atau flu biasa.

Para peneliti di Provinsi Guangdong memantau jumlah virus corona baru pada 18 pasien. Salah satunya, yang mengidap virus tingkat "sedang" di hidung dan tenggorokannya, tidak pernah memiliki gejala penyakit apa pun.

Di antara 17 pasien yang memiliki gejala, tim menemukan kadar virus meningkat cepat setelah gejala pertama kali muncul, dengan jumlah virus yang lebih tinggi berada di hidung daripada di tenggorokan. Pola tersebut lebih mirip dengan influenza daripada SARS.

Tingkat virus pada pasien tanpa gejala mirip dengan apa yang ada pada pasien yang menunjukkan berbagai gejala, seperti demam. "Apa yang dikatakan, jelas virus ini dapat dikeluarkan dari saluran pernapasan bagian atas dan orang-orang melepaskannya tanpa gejala," kata Poland.

Temuan itu menambah bukti bahwa Covid-19, meskipun secara genetis serupa, tidak memiliki gejala seperti SARS, ujar Kristian Anderson, seorang ahli imunologi di Scripps Research di La Jolla yang menggunakan alat pengurutan gen untuk melacak wabah penyakit.

"Covid-19, jelas jauh lebih mudah menyebar di antara manusia daripada virus coronajenis lain yang pernah kita lihat. Ini lebih mirip dengan penyebaran flu," kata Anderson, yang tidak terlibat dengan penelitian tersebut.

Para peneliti mengatakan temuan mereka menambah laporan bahwa virus dapat ditularkan pada awal perjalanan infeksi dan menyarankan agar pengendalian Covid-19 dilakukanberbeda dengan SARS, terutama dalam mengatasi penyebaran virus corona jenis baru itu di rumah sakit.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA