Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Survei Indo Barometer: PDIP Masih yang Terkuat

Ahad 23 Feb 2020 15:20 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Ratna Puspita

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari usai memaparkan hasil survei di Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (23/2).

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari usai memaparkan hasil survei di Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (23/2).

Foto: Republika/Arif Satrio Nugroho
PDIP berpeluang memenangi pemilihan legislatif di Pemilu 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei Indo Barometer menyebut PDI Perjuangan sebagai parpol yang terkuat dalam kontestasi legislatif. Dengan angka 24,8 persen, PDIP disebut berpeluang memenangi pemilihan legislatif di Pemilu 2024.

Baca Juga

“Saya melihat PDIP berpeluang mencetak sejarah demokrasi di Indonesia dengan menjuarai Pileg 2024,” ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam pemaparan yang digelar di Senayan, Jakarta, Ahad (23/02).

Sejarah yang dimaksud Qodari adalah memenangi Pemilu selama tiga kali berturut-turut. Selama ini, belum ada partai politik yang berhasil menang pemilu selama tiga kali berturut - turut. Sebelumnya, PDIP menjadi pemenang Pemilu 2014 dan 2019. 

Berdasarkan simulasi terhadap 16 parpol yang mendapat dukungan dari masyarakat, PDI Perjuangan unggul dengan angka 24,8 persen, disusul Gerindra 14,8 persen, Golkar 8,1 persen, PKS 7,8 persen, PKB 5,6 persen. 

Kemudian Demokrat meraih 5,5 persen, Nasdem 2,5 persen, PAN 2,4 persen, PPP 2,3 persen, Perindo 2 persen, PSI 0,8 persen, Hanura 0,4 persen, PBB 0,2 persen, Berkarya 0,1 persen, Garuda dan PKPI 0 persen. 

Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengklaim, PDI Perjuangan dalam sejarahnya bukan hanya didirikan untuk kepentingan elektoral. Namun, menurut Masinton, PDIP terus menyiapkan kader-kader untuk elektoral. 

"Sejak 2014 memang kami mengalami peningkatan. Ini bukan pekerjaan mudah di tengah era reformasi partai politik untuk mempertahankan kemenangan," ujar dia. 

Hasil survei tersebut, kata Qodari menjadi perhatian bagi partai baru yang akan bertarung pada Pemilu 2024. “Nampaknya partai-partai baru akan sulit masuk DPR RI, buktinya Pemilu 2019 partai baru tidak ada perwakilandi DPR RI, bahkan ada partai lama ada yang tidak masuk seperti Hanura," ujar Qodari.

Qodari pun menjelaskan, ada lima alasan utama publik memilih partai politik. Sebanyak 20,8 persen memilih karena kerja partai bermanfaat untuk masyarakat.

Sebanyak 20,4 memilih parpol karena suka dengan tokoh atau kader partainya. Lalu, sebanyak 17,8 persen memilih partai pilihan itu sejak dulu.

Lalu 7,3 persen responden memilih karenacmerasa partai dekat dengan rakyat. Di samping itu, 6,8 persen pemilih melakukan pemilihan karena merasa partai sesuai hati nurani. 

Untuk diketahui survei ini menggunakan sebanyak 1.200 responden, dengan margin of error sebesar 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden survei adalah warga negara Indonesia yang sudah mempunyai hak pilih berdasarkan peraturan yang berlaku, yaitu warga yang minimal  berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah pada saat survei dilakukan.

Metode penarikan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling dan untuk teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA