Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Wapres: Dana Riset Besar, Tapi Jumlah Peneliti Sedikit

Senin 24 Feb 2020 16:30 WIB

Red: Esthi Maharani

Wakil Presiden Maruf Amin saat membuka rapat kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (24/2).

Wakil Presiden Maruf Amin saat membuka rapat kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (24/2).

Foto: Republika/Fauziah Mursid
Alokasi anggaran untuk penelitian sebesar Rp27 triliun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyebutkan sumber dana riset di Indonesia berbanding terbalik dengan jumlah penelitinya, yakni dengan alokasi anggaran Rp27 triliun, tetapi jumlah peneliti hanya 89 orang per juta penduduk.

"Alokasi anggaran penelitian dan pengembangan Indonesia sekitar Rp27 triliun, lebih besar dibanding Filipina yang Rp12 triliun dan Vietnam Rp24 triliun. Tetapi jumlah peneliti Indonesia hanya 89 orang per juta penduduk, dibandingkan dengan Vietnam jumlah penelitinya 673 per juta penduduk," kata Ma'ruf Amin mengutip laporan Global Innovation Index Tahun 2019, saat membuka Rapat Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta, Senin (24/2).

Selain itu, Indonesia berada di peringkat ke-85 dari 129 negara di dunia dan peringkat kedua terendah di Asean dalam hal penelitian. Indikator terburuknya, kata Wapres, adalah lemahnya institusi.

Besarnya anggaran riset tersebut, lanjut Wapres, menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai aspek penting dalam pembangunan nasional. Oleh karena itu, Wapres berharap BPPT sebagai lembaga kaji-terap dapat mengembangkan inovasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Salah satu tolak ukur keberhasilan BPPT adalah terpakainya inovasi teknologi oleh masyarakat Indonesia. BPPT sebagai lembaga iptek harus dapat diandalkan dalam pengkajian dan penerapan iptek," katanya.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan salah satu penyebab lemahnya inovasi di Indonesia adalah minimnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM).

"Memang belum standar kalau dibandingkan dengan perkembangan di negara maju. Kita bicara mengenai peneliti berkualifikasi S3, rasio SDM peneliti terhadap jumlah penduduk, ditambah dengan produktivitas dari penelitinya sendiri," kata Bambang.

Untuk dapat meningkatkan kualitas riset dan inovasi, Bambang mengatakan perlu ada pembenahan serius terhadap SDM di bidang riset dan teknologi, karena para peneliti merupakan sumber dari lahirnya inovasi.

"Olah karena itu upaya ke depan kita adalah debirokratisasi dari riset, karena riset tidak bisa dikembangkan dengan jenjang struktural, dengan rumitnya birokrasi seperti yang kita alami sekarang," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA