Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Bursa Malaysia Anjlok Seiring Kemunduran Mahathir

Senin 24 Feb 2020 17:02 WIB

Red: Indira Rezkisari

Mahathir Mohamad mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Mahathir Mohamad mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Foto: AP/Vincent Thian
Ketidakpastian politik dari kemunduran Mahathir akan berdampak ke ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Retno Wulandhari, Zainur Mahsir Ramadhan, Puti Almas,  Dwina Agustin

Kabar mundurnya Tun Dr Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia membuat kondisi perekonomian Malaysia guncang. Bursa saham Malaysia (FBM KLCI) terkoreksi cukup dalam setelah Perdana Menteri Malaysia menyatakan mundur. Indeks saham melemah 42,78 poin atau sebesar 2,79 persen menjadi 1.488,22.

Dilansir MalayMail, level tersebut merupakan yang terendah sepanjang delapan tahun terakhir sejak Desember 2011. Sementara itu, mata uang Malaysia ringgit melemah ke level 4.2210 terhadap dolar AS.

Semua indeks mengalami negatif mulai dari sektor konstruksi yang mengalami penurunan 6,56 persen dan diikuti penurunan di sektor energi sebesar 4,16 persen. Analis mengatakan FBM KLCI diprediksi masih akan terus melanjutkan penurunannya hingga ke level 1.480. Tren melemah akan terus berlanjut sampai ada keputusan dari raja Malaysian Yang di-Pertuan Agong.

Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad mengundurkan diri, Senin (24/2). Kemunduran Mahathir ini telah membuat kondisi perpolitikan Malaysia menjadi tidak stabil.

Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Internasional (MITI) Malaysia, Dr Ong Kian Ming mengkhawatirkan dampak dari pengunduran diri Mahathir Muhammad. Sebab, ketidakpastian dari politik yang dialami Malaysia kini, dinilai buruk bagi ekonomi.

“Malaysia membutuhkan arahan ke mana arah pemerintahan di masa depan,” ujar dia seperti dilansir Bernama.

Terkait pengunduran diri Mahathir, Anggota Dewan Rakyat itu juga meminta agar pemerintah bisa memastikan kabar baik pada para investor. Bahkan, pemerintah Malaysia saat ini ia minta untuk kembali meyakinkan, efek dari pengunduran diri itu tak merubah Malaysia sebagai tempat terbaik untuk berinvestasi.

Berdasarkan laporan, Bursa Malaysia merosot 29,73 poin dari pembukaan pada 1.501,47 dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, ringgit juga disebut merosot 240 poin terhadap dolar AS.

Dia berharap, paket stimulus ekonomi yang akan diumumkan oleh Menteri Keuangan dan sekretaris jenderal DAP Lim Guan Eng pada Kamis mendatang, bisa berjalan baik dan sesuai rencana. "Saya pikir negara membutuhkan arah ekonomi semacam ini lebih dari sebelumnya," katanya.

Dalam berakhirnya kepemimpinan Mahathir, ia juga menyatakan akan mempertahankan posisinya sebagai wakil Menteri. Sebab, tensi perpolitikan di Malaysia saat ini ia nilai bisa dan harus ditangani.

"Saya berharap untuk melanjutkan tugas saya sebagai wakil menteri (MITI), karena itu adalah pelayanan yang baik, dan saya berharap dapat terus bekerja dengan (Menteri MITI) Datuk Darell Leiking dan tim manajemen di sini," tambahnya.

Dia menegaskan, kementeriannya akan terus memantau tantangan dari berbagai isu. Sambung dia tak hanya, pengunduran diri Mahathir Muhammad tetapi juga Covid-19.

Tun Dr Mahathir Mohamad resmi menyatakan pengunduran dirinya pada Senin (24/2) hari ini. Ia menyerahkan surat pengunduran diri kepada YDP Agong, yang membuatnya menjadi pemimpin terlama sekaligus terpendek dalam satu periode di negara itu.

Dalam periode pertama, Mahathir memimpin dengan masa jabatan selama 22 tahun atau lima periode, diusung Barisan Nasional (BN). Ia menjabat pada 16 Juli 1981 hingga 31 Oktober 2003.

Dalam periode terbaru, pascakepemimpinan mantan perdana menteri Najib Razak, sekaligus 15 tahun jeda dari dunia politik, Mahathir kembali menjabat dengan dukungan koalisi Pakatan Harapan (PH). Ia terpilih pada pemilihan umum Malaysia yang digelar 9 Mei 2018, saat usianya 92 tahun.

Pengunduran diri Mahathir terjadi tiga bulan sebelum hampir dua tahun ia kembali menjadi perdana menteri. Keputusan ini pun datang setelah desas desus koalisi akan kehilangan kekuasaan federal.

Sebelumnya, Dewan presiden PH menyerakan kepada Mahathir untuk memutuskan waktu transisi kekuasaan, pascakonferensi Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) pada November mendatang. Saat itu, ia mengatakan dalam sebuah konferensi bahwa telah ada keputusan bulat.

Para pemimpin PH yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut diantanya adalah Wakil Perdana Menteri dan Presiden PH Datuk Seri Dr Wan Azizah Wan Ismail, Presiden PKR Datuk Seri Anwar Ibrahim, Presiden Partai Amanah Mohamad Sabu, Presiden Bersatu Tan Sri Muhyiddin Yassin dan Presiden DAP Lim Guan Eng. Pada kesempatan tersebut Anwar Ibrahim mengakui perlu bersabar untuk sementara waktu hingga dirinya bisa dilantik sebagai Perdana Menteri ke delapan Malaysia.

Anwar Ibrahim mengatakan pendirian PH jelas. Serta tiada keraguan dari segi komitmen untuk memastikan Mahathir dapat menjalankan tugas dengan dokongan yang penuh.

Keputusan pengunduran diri Mahathir dilanjutkan dengan keputusannya menanggalkan posisi kepemimpinan partai Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) atau lebih dikenal dengan Bersatu. "Tun Dr. Mahathir bin Mohamad telah mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai ketua Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu)," tulis surat pernyataan resmi.

Surat pengunduran diri terjadi beberapa jam setelah pria berusia 94 tahun ini mengundurkan diri dari jabatan PM.  Setelah pengumuman itu, Bersatu pun menyatakan mundur dari koalisi Pakatan Harapan. Bersatu didirikan pada 8 September 2016 untuk melawan United Malays National Organisation (UMNO) dalam pemilihan.

Pengunduran Mahathir pun sebagai PM dan pemimpin Bersatu pun menarik 11 anggota parlemen lainnya, termasuk beberapa menteri Kabinet Malaysia. Mereka pun menyatakan keluar dari partai Anwar Ibrahim Partai Keadilan Rakyat (PKR) untuk membentuk blok independen.

Dengan pengunduran yang terjadi, maka terjadi penarikan lebih dari tiga lusin anggota parlemen. Artinya aliansi yang berkuasa telah kehilangan mayoritas suara di Parlemen yang awalnya dipegang oleh Pakatan Harapan.

Saat ini Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah telah melakukan pertemuan dengan Bersatu dan beberapa pemimpin lainnya pada Ahad. Dia pun melakukan pertemuan dengan  Anwar pada Senin sore dan telah memanggil Mahathir ke istana.  Para analis mengatakan, Raja dapat memutuskan fraksi mana yang akan mendapat dukungan atau membubarkan Parlemen untuk pemilihan.

Drama politik terjadi dengan penuh manuver yang bertujuan menempatkan Mahathir tetap berkuasa dan menggagalkan Anwar sebagai PM terjadi sejak Ahad. Kondisi ini mengulangi kembali perseteruan keduanya yang telah berlangsung beberapa dekade.

Anwar adalah wakil Mahathir selama masa tugas pertama Mahathir sebagai perdana menteri. Mereka kemudian berseteru dan kembali dalam pakta politik untuk menggulingkan pemerintahan dalam pemilihan Mei 2018.

Setelah Mahathir kembali sebagai PM, dia menolak untuk menetapkan tanggal untuk melepaskan kekuasaan kepada Anwar. Hingga, pada Ahad malam, Anwar membenarkan bahwa ada upaya oleh beberapa anggota Bersatu dan pengkhianat dari partainya untuk membentuk pemerintahan baru.

Namun, Anwar menanggapi kondisi tersebut dengan sebutan cobaan kecil dan telah mengatasinya. Dia bahkan bercanda meskipun mungkin tidak menjadi PM Malaysia yang kedelapan, dia bisa menjadi yang kesembilan.

Anwar dan beberapa pemimpin aliansi bertemu Mahathir di kediaman pada Senin. Dia kemudian mengatakan rasa puas dengan pertemuan dengan PM karena Mahathir bersikeras bahwa agenda reformasi harus dilanjutkan dan mengindikasikan dia tidak akan tunduk kepada pihak yang berusaha merebut kekuasaan.

Tapi, analis menyatakan, manuver-manuver yang terjadi dalam peletakan kekuasaan akan mengembalikan kekuasaan pada UMNO atau Partai Nasional Melayu Bersatu yang mendukung Najib Razak. Kondisi ini pun membuat publik mendorong pemilihan baru untuk pemerintahan selanjutnya ketika aliansi yang dibentuk telah runtuh.

"Jika pemerintah baru melaluinya, Malaysia sedang menuju ke tahap yang sangat regresif di mana supremasi rasial dan ekstremisme agama akan menjadi aturan saat itu," kata analis di Institut Urusan Internasional Singapura Oh Ei Sun.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA