Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Proses Evakuasi WNI dan Prinsip Biar Lambat Asal Selamat

Senin 24 Feb 2020 17:43 WIB

Red: Andri Saubani

Penumpang Diamond Princess melambaikan tangan ke penumpang lain yang meninggalkan kapal di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Tokyo, Rabu (19/2). Sebanyak 78 WNI menjadi awak di kapal Diamond Princess.

Penumpang Diamond Princess melambaikan tangan ke penumpang lain yang meninggalkan kapal di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Tokyo, Rabu (19/2). Sebanyak 78 WNI menjadi awak di kapal Diamond Princess.

Foto: EPA
Pemerintah berhati-hati dan enggan terburu-buru mengevakuasi WNI terdampak Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dessy Suciati Saputri, Sapto Andika Candra, Fergi Nadira

Baca Juga

Berbeda dengan evakuasi terhadap warga negara Indonesia di Provinsi Hubei, China, pemerintah kali ini berhati-hati terkait rencana evakuasi WNI yang berada di kapal pesiar Diamond Princess di Jepang dan World Dream di Hong Kong. Pemerintah, menurut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, tak akan mengambil keputusan yang gegabah yang justru akan membahayakan Indonesia.

Terawan menyebut, selama ini, pemerintah selalu bertindak hati-hati dalam mengambil keputusan terkait wabah virus Corona ini. Keputusan yang diambil pun akan terus berdasarkan prosedur dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

"Dan itu akan kita lakukan dengan tertib dan ketat, tidak boleh sekadar kita dipengaruhi oleh sebuah keputusan yang gegabah, tidak boleh. Taruhannya besar sekali, jadi saya minta juga para media ikut membantu supaya kita green zone," ujar Terawan di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (24/2).

Terkait WNI di kapal Diamond Princess, Terawan menegaskan, pemerintah terus melakukan negosiasi dengan Pemerintah Jepang terkait proses terbaik untuk mengevakuasi WNI yang dinyatakan negatif terinfeksi virus Corona. Proses negosiasi tersebut juga salah satunya membahas upaya evakuasi apakah melalui laut maupun udara.

"Tapi harus prosedur dan tata caranya jangan mengikuti apa yang mereka inginkan, hanya sekedar secepatnya saja. Harus butuh negosiasi yang detail, yang baik, sehingga apa yang kita lakukan jangan sampai kita diketawain dunia di kemudian hari," jelas Terawan.

Ia mencontohkan, sejumlah negara lain yang gegabah dalam mengevakuasi warganya dari negara terjangkit virus Corona seperti Australia dan juga Amerika Serikat (AS). Menurutnya, kedua negara tersebut justru melakukan proses evakuasi yang terburu-buru, sehingga berdampak pada penyebaran virus Corona di masing-masing negaranya.

"Contoh sekarang, apa negara yang keburu-buru ngambil, coba. Australia itu kan dari negatif jadi positif kan. Kita mau seperti itu? Amerika sama juga kan? Masak mau ngikutin yang seperti itu? Kita hati-hati," kata dia.

Terawan menyebut sembilan WNI saat ini tengah dirawat di rumah sakit di Jepang karena virus Corona. Jumlah WNI yang dilaporkan terinfeksi virus Corona semakin bertambah dari sebelumnya yang hanya terdapat empat WNI.

"Saya terangkan nih, WNI yang kena kan juga dirawat oleh pemerintah Jepang yang sembilan orang itu," ujar Terawan.

[video] Virus Corona, 3.700 Orang Dikarantina di Kapal Pesiar Jepang


Adapun, untuk 188 WNI yang kini berada di kapal World Dream, pemerintah telah memutuskan untuk menjemput mereka. Terawan menyebut, pemerintah kemungkinan mengambil opsi evakuasi WNI dari Diamond Princess menggunakan kapal. Nantinya, seluruh WNI yang dievakuasi dan kembali pulang ke Tanah Air harus melalui prosedur observasi atau karantina di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu.

"Pulau kosong, nanti lintangnya kita berikan Sebaru," ucap Terawan.

"Nanti kita tangani satu persatu. Yang sekarang ini yang sudah mengapung-ngapung (World Dream) harus segera kita tangani dan selesaikan dan kalau sekarang (Diamond Princess) kan masih ada pemerintah Jepang. Dan sekarang masih negosiasi dengan pemerintah Jepang," kata Terawan, menambahkan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan, Pulau Sebaru dipilih sebagai lokasi observasi karena tidak berpenghuni dan memiliki cukup infrastruktur untuk menampung seluruh awak kapal. Muhadjir tidak merujuk apakah yang dimaksud Pulau Sebaru Besar atau Pulau Sebaru Kecil. Namun, ia menyebut istilah Pulau Sebaru Besar yang kemungkinan merujuk pada Pulau Sebaru Besar.

"Lokasi sudah diterapkan dan disiapkan, yaitu di Kepulauan. Ada pulau yang tidak berpenghuni, di Sebaru 1. Pokoknya ada tempat yang kita anggap aman. Karena ada pulau yang tidak ada penghuninya, kita tinggal pakai aja," jelas Muhadjir usai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (24/2).

Pulau Sebaru Besar seluas 37,7 hektare masuk dalam Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu. Pulau ini memang tidak berpenghuni dan diperuntukkan sebagai lokasi wisata.

Pemindahan awak kapal dari World Dream ke KRI Suharso akan dilakukan di perairan internasional tak jauh dari Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Aktivitas kapal pesiar World Dream sendiri sudah dihentikan sejak 9 Februari 2020 lalu, menyusul penyebaran virus Corona. 

Semua sampel yang diambil dari anggota kru menunjukkan hasil negatif terinfeksi Corona. Kapal pesiar tersebut telah mendapatkan sertifikasi bebas Coronavirus dari Departemen Kesehatan Pelabuhan di Hong Kong. Semua penumpang yang telah meninggalkan kapal pesiar pada pelayaran terakhir tanggal 9 Februari 2020 tidak menunjukkan gejala yang terkait dengan infeksi Corona sampai saat ini.

Komisi Kesehatan Nasional China mencatat korban meninggal dunia akibat virus Corona baru atau Covid-19 mencapai 2.594 jiwa, Senin (24/2). Dalam 24 jam terakhir, 150 orang meninggal, sementara 409 kasus baru terdeteksi oleh otoritas kesehatan di seluruh Cina.

Secara total orang yang terinfeksi di seluruh dunia mencapai 77.150 orang. Sekitar 97 ribu orang kini tengah dalam perawatan medis. Sementara jumlah pasien sembuh sekitar 25 ribu orang.

Di luar China, terdapat 74 kasus terdeteksi di Hong Kong, dan 10 kasus lainnya di Makau, Senin. Virus ini juga telah menyebar ke lebih dari 25 negara termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Rusia, Iran, dan India. WHO pun telah menyatakan wabah ini sebagai darurat kesehatan internasional.

photo
Nama Baru Corona

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA