Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Kembalinya Mahathir Mohamad ke Kantor PM Malaysia

Selasa 25 Feb 2020 11:18 WIB

Red: Indira Rezkisari

Mahathir Mohamad melambaikan tangan setelah memberikan audiensi dengan Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah di Istana Nasional Kuala Lumpur, Senin (24/22020). Mahathir telah mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Mahathir Mohamad melambaikan tangan setelah memberikan audiensi dengan Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah di Istana Nasional Kuala Lumpur, Senin (24/22020). Mahathir telah mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Foto: AP/FL Wong
Publik menunggu keputusan politik pascapengunduran diri Mahathir Mohamad kemarin.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Puti Almas, Febrian Fachri, Antara

Mahathir Mohamad kembali berkantor di Kantor Perdana Menteri Putrajaya, Selasa (25/2). Kemarin, Mahathir ditunjuk sebagai perdana menteri sementara oleh Yang Dipertuan Agung Malaysia atau Raja Malaysia.

Mahathir tiba di gedung Perdana Putra pukul 09.29 pagi dengan mengendarai mobil resmi plat Malaysia 2020.

Pagi harinya sejumlah pimpinan Partai Pribumi Malaysia Bersatu (Partai Bersatu) mendatangi kediaman Mahathir di Seri Kembangan. Setelah itu mereka meneruskan perjalanan ke Kantor Perdana Menteri Putrajaya setelah Mahathir menuju Putrajaya.

Terlihat dalam rombongan Partai Bersatu adalah Ketua Srikandi Partai Bersatu, Rina Harun, Ketua Badan Pimpinan Bersatu, Razali Idris. Nampak pula Penasihat Komunikasi dan Media Mahathir, Abdul Kadir Yasin di kediaman Mahathir.

Mahathir ditunjuk sebagai perdana menteri sementara hanya beberapa jam setelah menyerahkan surat pengunduran diri kepada raja pada Senin (24/2) sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Pengunduran dirinya diterima, dengan keputusan dari Yang-di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah bahwa pria berusia 94 tahun itu harus tetap memimpin pemerintahan Malaysia, hingga pemerintahan baru dibentuk.

Keputusan tersebut datang di tengah rumor bahwa Mahathir berencana membentuk koalisi baru tanpa Anwar Ibrahim, yang dijanjikan untuk menggantikannya sejak awal ia kembali terpilih menjadi perdana menteri pada Mei 2018.

Mahathir saat itu bersama partai-partai koalisinya berhasil mengalahkan mantan perdana menteri Najib Razak yang terjerat skandal korupsi 1 Malaysia Development Berhad (1MDB). Ia yang telah absen selama 15 tahun dari dunia politik juga mengejutkan publik dengan bergabung bersama Anwar yang sempat menjadi rivalnya.

Anwar pernah menjadi wakil perdana menteri di era kepemimpinan Mahathir pertama kalinya, yang dimulai pada 16 Juli 1981. Namun, hubungan keduanya memburuk dengan pemecatan Anwar pada 1998, menyusul konflik kepemimpinan. Bahkan, Anwar kemudian dipenjara karena tuduhan korupsi dan sodomi, yang secara luas diduga dilatarbelakangi kepentingan politik.

Baca Juga



Lawyers of Liberty, dikutip dari Malay Mail, mengingatkan seluruh politikus untuk mengingat janjinya pada masyarakat. Yaitu mereka akan melakukan reformasi di pemerintahan dan tidak larut dalam urusan perebutan kekuasaan.

Direktur Lawyers of Liberty, Melissa Sasidaran, mengatakan publik sebenarnya memiliki harapan yang besar bagi Pakatan Harapan. Tapi pengunduran diri Mahathir membuat publik menyangsikan apakah Pakatan Harapan akan memenuhi janjinya itu,

"Koalisi Pakatan Harapan akan selalu menghadapi tantangan, tapi perkembangan sudah ada di urusan reformasi. Di bawah pemerintahan kemarin, Malaysia sudah lebih akuntabel, transparan, dan menghargai demokrasi. Sayangnya, koalisi dinodai oleh penggunaan kekuasaan sejak GE14. Bukannya membangun kepercayaan publik, ini telah mengganggu momen perubahan dan tidak menghargai mandat rakyat," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya mendorong politikus untuk fokus dan melanjutkan upaya reformasi. "Jangan biarkan Malaysia kembali ke era korupsi dan politik adu domba yang sudah kami pilih untuk ditinggalkan."

Pengamat politik dari Universitas Andalas Najmuddin M. Rasul mengatakan Anwar Ibrahim akan sulit menjadi Perdana Menteri Malaysia setelah koalisi dengan Mahathir Muhammad di Pekatan Harapan retak di tengah jalan. Sejak awal, Najmuddin memang melihat koalisi Mahathir dan Anwar ketika menumbangkan petahana Najib Razak setengah hati.

"Koalisi Mahathir dengan Anwar ini setengah hati. Mahathir tak ingin Anwar jadi PM," kata Najmuddin, Selasa (25/2).

Najmuddin melihat Mahathir memang selama ini memang punya andil besar dalam percaturan politik Malaysia. Mahathir dan Anwar dulu sama-sama berada di Partai United Malays National Organisation (UMNO).

Di saat Anwar memiliki kesempatan sebagai PM Malaysia, pada 1999, Mahathir membuang Anwar karena ketidakcocokan pandangan politik. Mahathir menjerat Anwar dengan isu sodomi yang membuat mantan Wakil Menteri Malaysia ketujuh itu harus masuk penjara.

Setelah Anwar masuk penjara, Mahathir membantu melenggangkan Abdullah Ahmad Badawi yang juga berasal dari UMNO. Usai disingkirkan, Anwar pindah ke Partai Keadilan Rakyat. Di mana ia lebih memilih bergerak di jalur oposisi.

Mahathir kembali menggandeng Anwar ketika ia ingin menumbangkan Najib Razak. Koalisi Mahathir dan Anwar berhasil menumbangkan Razak dan kini menjerat Razak dengan kasus korupsi 1 MDB.

Setelah berhasil kembali ke singasananya sebagai PM Malaysia, Mahathir sempat berjanji akan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar paling lama setelah dua tahun dirinya menjabat. Dan untuk meyakinkan Anwar, Mahathir mengangkat istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail sebagai Wakil Perdana Menteri ke-12.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA