Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Indonesia dapat Hibah 14 Drone ScanEagle dari AS

Rabu 26 Feb 2020 15:34 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Esthi Maharani

Pesawat pengintai ScanEagle buatan Boeing.

Pesawat pengintai ScanEagle buatan Boeing.

Foto: .defenseindustrydaily.com
Selain dapat hibah drone scaneangle, 3 helikopter akan dimuktahirkan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kementrian Pertahanan (Kemhan) RI akan mendapat hibah 14 drone ScanEagle dan pemutakhiran tiga unit Helikopter Bell 412 dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Hibah ini diklaim dapat memperkuat Alat utama sistem senjata (Alutsista) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono datang ke Komisi I DPR RI pada Rabu (26/2) untuk menyampaikan permohonan persetujuan penerimaan hibah tersebut. Ia menjelasakan, pemerintah AS sejak tahun 2014 sampai 2015 menawarkan program hibah (FMF) kepada TNI.  Atas dasar itu, maka pada tahun 2017 TNI AL mengambil program FMF Hibah tersebut berupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan upgrade helikopter Bell 412.

Sesuai ketentuan, dibentuklah tim pengkaji oleh Kemhan untuk melakukan penilaian apakah barang tersebut layak diterima dari aspek teknis, ekonomis, politis, dan strategis. Dari kajian tersebut Kemhan memutuskan untuk menerima program hibah dimaksud.
 
"Drone ScanEagle memiliki nilai 28,3 juta dolar AS, dibutuhkan TNI AL untuk  meningkatkan kemampuan ISR maritim guna memperkuat pertahanan negara," ujar Wahyu Trenggono, Rabu.

Ia melanjutkan, ScanEagle adalah bagian dari ScanEagle Unmanned Aircraft Systems, yang dikembangkan dan dibangun oleh Insitu Inc., anak perusahaan The Boeing Company. UAV didasarkan pada pesawat miniatur robot SeaScan Insitu yang dikembangkan untuk industri perikanan komersial.

ScanEagle akan digunakan untuk melaksanakan patroli maritim, integrasi ISR (intelijen, pengawasan, dan pengintaian). Sementara untuk upgrade peralatan Helikopter Bell 412 dengan nilai 6,3 juta Dollar AS dibutuhkan TNI AL untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas dan meningkatkan kemampuan pertahanan negara.

"Nantinya Drone ScanEagle ini akan digunakan oleh TNI AL untuk kepentingan khusus. Kita hanya keluar dana sekitar Rp10 miliar untuk mengintegrasikan dan memastikan keamanan data dari peralatan ini dengan Alutsista lainnya. Nanti PT LEN yang akan bertugas untuk integrasikan," kata Wahyu.

Drone ScanEagle dapat beroperasi di atas 15.000 kaki (4.572 m) dan berkeliaran di medan perang untuk misi yang diperpanjang hingga 20 jam. Drone dengan bobot maksimum tempat pilot diizinkan untuk lepas landas atau maximum takeoff weight (MTOW) 22 kg ini, digerakkan mesin piston model pusher berdaya 15 hp.

Kecepatan terbang jelajah ScanEagle berada di kisaran 111 km/jam dan kecepatan maksimum 148 km/jam. Batas ketinggian terbang mencapai 5.950 m. ScanEagle sanggup berada di udara dengan lama terbang (endurance) lebih dari 24 jam.

Di kawasan Asia Tenggara-Pasifik, drone ScanEagle sudah digunakan oleh Angkatan Laut Singapura. Pengguna lainnya adalah AL dan Angkatan Darat Australia. Bahkan, ScanEagle milik Militer Australia telah teruji perang (battle proven) di Irak.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA