Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Menristek: 90 Persen Bahan Obat Berasal dari Impor

Kamis 27 Feb 2020 07:24 WIB

Rep: Rizky Suryandika/Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengungkap 90 persen bahan baku obat dan alat kesehatan di Indonesia ternyata masih impor.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengungkap 90 persen bahan baku obat dan alat kesehatan di Indonesia ternyata masih impor.

Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
Indonesia dapat mendorong pengembangan farmasi halal, manfaatkan bahan lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengungkap 90 persen bahan baku obat dan alat kesehatan di Indonesia ternyata masih impor. Bambang menilai fakta tersebut memunculkan keresahan pengguna maupun pelaku industri kesehatan.

"Disayangkan sekali ketergantungan terhadap impor. Sehingga wajar kalau kami menyampaikan pentingnya penelitian kesehatan,” kata Bambang dalam siaran pers, Rabu (26/2).

Bambang menyebut salah satu alasan masuknya impor obat secara masif karena minimnya pengembangan industri kesehatan di Indonesia. Menurutnya, masih banyak selisih antara sektor penelitian dan komersial hingga banyak penelitian sulit masuk pasar.

Baca Juga

"Saya mengimbau untuk mendorong industri mengurangi ketergantungan bahan baku impor obat. Salah satu solusinya tentu memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia," ujar Bambang.

Kemudian, Bambang berharap obat yang dikembangkan di dalam negeri bisa dimasukkan sebagai obat rekomendasi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Di sisi lain, Indonesia dapat mendorong pengembangan farmasi halal mengingat masih memiliki ruang sangat luas untuk itu. Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW), Ikhsan Abdullah menyampaikan penyebaran wabah corona bisa jadi momentum untuk mengambil hikmah. Indonesia perlu menyiapkan bahan baku lokal untuk kebutuhan industri farmasi.

Ikhsan menyampaikan, meski hasilnya tidak instan, ia yakin dalam lima tahun ke depan Indonesia bisa jadi salah satu yang terdepan di industri farmasi halal. Mengingat, saat ini Indonesia termasuk negara yang dijadikan rujukan sebagai penghasil vaksin halal terbesar.

Endemik penyakit baru, seperti Covid-19 telah menjadi tantangan dunia. Tidak hanya dari sisi klinis virusnya, tapi juga dari dampak yang ditimbulkan. Covid-19 telah menghambat rantai distribusi berbagai bahan baku termasuk farmasi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA